Rabu , 06 Desember 2017, 23:30 WIB

Wasit Ini Tinggalkan Liga Inggris karena Mourinho

Rep: Gilang Akbar Prambadi/ Red: Bayu Hermawan
www.express.co.uk
Mark Clattenburg
Mark Clattenburg

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH -- Wasit berkebangsaan Inggris Mark Clattenburg buka suara soal keputusan besarnya yang meninggalkan Liga Primer Inggris awal tahun 2017. Clattenburg mengatakan, ia mulai berpikir untuk keluar dari Liga Inggris karena pernyataan pelatih Manchester United (MU) Jose Mourinho.

Wasit 42 tahun ini menceritakan, semua bermula ketika ia memimpin pertandingan MU kontra Stoke City musim lalu. Pada laga yang dilaksanakan di markas Stoke, pada tanggal 21 Januari 2017 itu, MU ditahan imbang 1-1.

Setelah laga selesai, Mourinho mendatangi ruang ganti wasit untuk menemui Clattenburg. Di sana, pelatih asal Portugal itu protes keras terhadap kepemimpinan Clattenburg yang tidak memberikan penalti untuk Iblis Merah.

Apa yang Mourinho katakan ternyata menggangu pikiran Clattenburg. Menurut Clattenburg, hal itu sampai membuatnya melamun ketika memacu mobil untuk pulang ke rumah.

"Saya berkendara sejauh 250 mil dan terus berpikir 'apa iya saya membuat kesalahan yang fatal?'. Saya tahu, memimpin pertandingan MU tidak pernah mudah. Saya akhirnya berpikir 'apa benar saya akan terus jadi wasit di sini?'. Istri saya sampai bingung karena sikap saya berubah sejak saat itu," ujar Clattenburg kepada Men in Blazers podcast, dikutip Rabu (6/12).

Wasit yang mendapatkan lisensi FIFA pada tahun 2006 ini kemudian mengambil langkah berani dengan keluar dari Liga Primer Inggris. Kariernya sebagai salah satu pengadil lapangan terbaik Inggris yang ia rintis dari tahun 2004 pun berakhir.

 

"Saya akhirnya mengambil keputusan. Saya keluar dari sana karena saya tak menikmatinya," kata Clattenburg.

Sejak meninggalkan Inggris, Clattenburg bergabung dengan federasi sepak bola Arab Saudi. Di sana, wasit yang pernah memimpin pertandingan final Liga Champions 2016 ini berkerja sebagai petinggi korps baju hitam Arab dan ikut juga bertugas jadi juru adil di lapangan.