Jumat , 21 April 2017, 23:34 WIB

[analisis] Kebangkitan AS Monaco dalam Paradoks Dmitry Rybolovlev

Rep: Anggoro Pramudya/ Red: Andri Saubani
AP
Penyerang AS Monaco Radamel Falcao (tengah) melompat usai mencetak gol kedua timnya di leg kedua perempat final Liga Champions antara Monaco dan Dortmund di stadion Louis II di Monaco.
Penyerang AS Monaco Radamel Falcao (tengah) melompat usai mencetak gol kedua timnya di leg kedua perempat final Liga Champions antara Monaco dan Dortmund di stadion Louis II di Monaco.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – AS Monaco menjadi satu-satunya tim Prancis yang lolos hingga babak semifinal Liga Champions musim 2016/2017. Menawan di pentas elit Eropa, Monaco juga beringas saat berlaga di kompetisi domestik Ligue 1. Tim besutan Leonardo Jardim itu menyabet predikat sebagai salah satu kesebelasan yang memiliki serangan eksplosif di benua biru.

Meledaknya performa Monaco musim ini tak terlepas dari kejeniusan Leonardo Jardim dalam membina pemain muda mereka. Pelatih asal Portugal itu membuat Les Rouge et Blanc kembali berkibar. Monaco yang tertidur panjang kali ini mulai rutin menyuguhkan tontonan menghibur.

Hingga memasuki pekan ke-32 Liga Prancis, Monaco tercatat hanya mengenyam tiga kekalahan dan lima hasil imbang. Perolehan fantastis mereka lebih merujuk pada jumlah produktifitas gol yang mencapai 90 gol (belum termasuk gol dipentas Liga Champions).

Sebagaimana dikutip dari Whoscored, Kamis (20/4) total gol perlaga berada di angka 2,8 dengan rating yang diberikan mencapai 7,13. Pun demikian mereka mapun secara konsisten meneror pertahanan tim-tim Ligue 1. Dengan rataan akurasi umpan mencapai 80,1 persen. Dua sosok (Falcao-Mbappe) lah yang menjadi mesin gol Monaco.

Menoleh ke belakang, Monaco kembali bergema di kancah Eropa diawali dari akuisisi klub oleh miliuner asal Rusia, Dmitry Rybolovlev. Pada 2011, Monaco yang tengah terpuruk akibat krisis finansial akut mulai bermetamorfosis. Sang taipan industri kimia tersebut mempunyai visi mengembalikan status Monaco sebagai salah satu raksasa di kancah sepak bola negeri anggur termasuk benua biru.

Dalam konstelasi sepak bola Prancis, Monaco merupakan satu dari sedikit klub yang bergelimang kesuksesan lewat koleksi tujuh gelar juara League 1, lima gelar Piala Prancis, satu gelar Piala Liga dan bahkan pernah menjadi runner-up pada ajang Liga Champions musim 2003/2004 silam. Mereka kalah dari tim asuhan Jose Mourinho yang saat itu menangani FC Porto.

Bermodal fulus melimpah milik Rybolovlev, Monaco terus mempercantik diri. Termasuk menghabiskan dana hingga 140 juta euro pada musim panas 2013 yang lalu usai promosi ke Liga Prancis. Sejak saat itu pula, Les Monegasques amat konsisten beredar di papan atas, tak pernah keluar dari tiga besar, walau belum sanggup menyaingi kedigdayaan, Paris Saint-Germain (PSG) yang secara berturut-turut keluar sebagai juara liga.

Namun seiring berjalannya waktu, Rybolovlev seakan sadar bila terus menggelontorkan uang ekstra demi mendatangkan pemain-pemain bintang adalah cara yang salah. Monaco tak perlu meniru langkah rivalnya PSG yang setiap tahun menghamburkan dana puluhan bahkan ratusan juta euro demi membangun sebuah tim super. Gaya seperti itu justru akan membuat kondisi keuangan Si Merah-Putih kembali kolaps seperti yang terjadi sebelumnya.

Situasi tersebut akhirnya membuat manajemen Monaco mencari metode alternatif. Terlebih dibanding seluruh tim yang berlaga di Ligue 1, pemasukan yang didapat Los Monegasques dari setiap laga kandang terbilang minim akibat rataan penonton yang rutin mengunjungi Stadion Stade Louis II cukup rendah, hanya 9.000 orang dari kapasitas stadion yang mencapai 16.500 bangku.

Hingga akhirnya, sebuah kebijakan baru diambil pihak manajemen. Mereka yakin bahwa membeli pemain-pemain muda dengan harga miring dan mempromosikan bibit potensial jebolan akademi merupakan opsi terbaik tanpa mengorbankan sisi kompetitif skuat ini secara umum. Hal tersebut menjadi perbandingan di tengah glamornya pentas lapangan hijau (khusunya Liga Inggris yang kerap boros dalam mendatangkan pemain).

Modul yang dikeluarkan Rybolovlev ternyata terbukti, mulai musim panas 2014 manajemen Monaco tak lagi mengirim cek dengan nominal gemuk buat membeli pemain. Sasaran mereka pun beralih dari pemain bintang kepada sosok-sosok muda potensial dan belum dikenal khalayak luas semisal Tiemoue Bakayoko (dari Rennes), Gabriel Boschilia (Sao Paulo), Fabinho (Rio Ave), Thomas Lemar (Caen), Benjamin Mendy (Marseille), Djibril Sidibe (Lille) dan Bernardo Silva (SL Benfica).

Sementara sektor akademi meluluskan Irvin Cardona (top skorer klub di ajang UEFA Youth League), Abdou Diallo, Kylian Mbappe, Kevin N’Doram dan Almamy Toure. Nama-nama tersebut, utamanya Mbappe, bahkan cukup sering diturunkan oleh pelatih Les Monegasquesl, Leonardo Jardim, untuk merumput di musim 2016/2017.

Akademi Monaco sendiri tergolong handal dalam menelurkan maupun mengasah bakat-bakat muda yang di kemudian hari jadi rebutan klub-klub mapan di penjuru Eropa. Gael Givet, Thierry Henry, Layvin Kurzawa, Emmanuel Petit, Claude Puel dan Lilian Thuram adalah beberapa contoh nyatanya. Kolumnis asal Prancis, Mohamed Mohamed, dalam reviewnya di statsbomb.com juga meyakini jika Lemar dan Mbappe adalah dua penggawa muda yang akan bersinar terang di musim ini.

Banyaknya penggawa belia yang ada di skuat utama Monaco juga membuat rataan usia tim besutan Jardim berada pada komposisi yang ideal. Berdasarkan data yang dihimpun dari Transfermarkt, skuat Los Monegasques musim ini memiliki rataan umur 25,2 tahun. Berbekal youngsters inilah, Jardim kemudian meramu sebuah sistem permainan yang ciamik sehingga Monaco bisa terus bersaing. Baik di kompetisi lokal  maupun regional sekelas Liga Champions. Hebatnya, di empat kompetisi tersebut Los Monegasques masih menyimpan asa untuk menjadi kampiun. Sungguh fantastis.

Berbicara mengenai formasi, Jardim lebih menyukai skemar 4-4-2 dengan mengandalkan duet dua striker di lini depan, sedangkan pada barisan tengah Bakayoko-Fabinho (bergantian dengan  gelandang gaek Joao Moutinho) menjadi gradasi permainan dari lini belakang ke depan. Sedangkan Mendy dan Sidibe tampil disiplin sebagai full back kiri dan kanan.

Lemar dan Silva yang punya agresivitas dan kecepatan ditempatkan sebagai gelandang sayap modern yang tak canggung untuk menusuk langsung ke kotak penalti. Dan di sektor depan, nama Mbappe selalu dipilih Jardim untuk menjadi satu dari tombak kembar Monaco, entah bersama Valere Germain atau Radamel Falcao.

Menit bermain yang cukup banyak diberikan oleh Jardim pada akhirnya membuat para penggawa belia tersebut punya kesempatan besar untuk terus mengembangkan kemampuan sekaligus menimba pengalaman. Kontribusi yang mereka tunjukkan musim ini bagi Les Monegasques adalah bukti sahih yang tak mungkin dibantah yang berefek pada atensi banyak orang. Ada banyak klub berkocek tebal yang siap memboyong nama-nama potensial milik Monaco dengan banderol sepadan.

Lebih lanjut, Monaco masih bisa berbicara banyak di pentas Liga Champions, Radamel Falcao dan kawan-kawan berhasil memastikan tikek ke partai semifinal. Ini merupakan kali keempat mereka masuk babak semifinal yakni medio 1993/1994, 1997/1998, serta 2003/2004. Pada tahun terakhir mereka kandas dari tangan Porto.