Sabtu, 5 Sya'ban 1439 / 21 April 2018

Sabtu, 5 Sya'ban 1439 / 21 April 2018

Kembali Kritik Oliver, Buffon tak Peduli Reputasinya Rusak

Ahad 15 April 2018 11:30 WIB

Rep: Frederikus Bata/ Red: Andri Saubani

Kiper Juventus Gianluigi Buffon meninggalkan pertandingan setelah diganjar kartu merah dalam pertandingan babak perempat final leg kedua Liga Champions menghadapi Real Madrid, Kamis (12/4) dini hari WIB.

Kiper Juventus Gianluigi Buffon meninggalkan pertandingan setelah diganjar kartu merah dalam pertandingan babak perempat final leg kedua Liga Champions menghadapi Real Madrid, Kamis (12/4) dini hari WIB.

Foto: AP Photo/Francisco Seco
Buffon menilai Oliver tak layak memimpin laga Madrid vs Juve.

REPUBLIKA.CO.ID, TURIN -- Penjaga gawang Juventus, Gianluigi Buffon tidak menyesali ucapan kerasnya kepada wasit Michael Oliver. Buffon menegaskan, ia hanyalah manusia yang menempatkan semangat, sentimen, dan kemarahan terhadap apa yang dia lakukan.

Buffon mengungkapkan, dengan banyaknya pengalaman selama menjadi pesepak bola, ia merasa kritiknya terhadap Oliver sudah tepat. Hanya mungkin di lain waktu, ia menyampaikan dengan kalimat yang lebih halus.

Ia menilai seorang wasit berpengalaman tidak akan bertindak seperti Oliver. Pengadil tersebut, menurut Buffon bakal membiarkan kedua tim bertarung habis-habisan hingga perpanjangan waktu.

"Saya yakin Oliver memiliki karier yang hebat di masa depan, tetapi dia terlalu muda untuk memimpin pertandingan seperti itu," ujar kapten Bianconeri mengutip dari Football Italia, Ahad (15/4).

Kamis (12/4) dini hari WIB, Real Madrid menjamu Juventus pada leg kedua babak delapan besar Liga Champions Eropa. Sebelum laga dihelat, tuan rumah di atas angin lantaran mengantongi kemenangan 3-0 di Turin. Tapi apa yang terjadi? Juve sanggup mengejar agregat 3-3 hingga 90 menit di Santiago Bernabeu.

Pada injury time, atau beberapa detik sebelum duel berlanjut ke perpanjangan waktu, Oliver memberi hadiah penalti untuk Madrid. Keputusan pengadil 33 tahun itu, dinilai kontroversial, lantaran terjadi pada pengujung laga. Sang wasit menganggap bek si Nyonya Tua, Mehdi Benatia melanggar gelandang serang Madrid, Lucas Vazquez di area terlarang.

Sontak jagad sepakbola dunia gempar, terbelah menjadi dua kubu. Ada yang mendukung Buffon cs, sebaliknya ada yang menilai keputusan Oliver sudah tepat.

"Itu bukan saat yang tepat bagi anda untuk meyakini itu pasti penalti. Saya juga tidak mengatakan itu bukan penalti. Menurut saya itu situasi yang meragukan. Dalam permainan seperti itu, ketika tersisa 20 detik, seorang wasit berpengalaman pasti melakukan evaluasi yang berbeda," ujar Buffon.

Secara pribadi portiere tim nasional Italia mengaku tidak memiliki dendam terhadap Oliver. Semua terjadi secara alami. "Saya merasa ditipu, bukan melihat hasilnya. Tapi dari suasana malam itu. Malam yang tak pernah bisa diulang," tuturnya.

Ia menilai jika tak ada keputusan kontroversi Oliver, maka Italia berpotensi meloloskan dua wakil di semifinal. Sebelumnya AS Roma menyingkirkan Barcelona. Roma yang kalah 1-4 pada leg pertama di Nou Camp berbalik unggul saat leg kedua di Olimpico dengan skor 3-0. Meski agregat akhir 4-4, pasukan I Lupi menang gol tandang.

Hal tersebut sangat bagus dalam sejarah negara tersebut, jika melihat proses comeback mereka. Atas semua ucapannya, kembali ia tegaskan, tak ada yang perlu diubah.

"Saya membela rekan setim dan penggemar, bahkan dengan cara yang tidak elok, saya merasakan itu. Saya harus membiarkan cara itu terjadi, meski harus merusak reputasi saya," ujar Buffon.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA