Jumat , 13 October 2017, 13:04 WIB

Menanti Akhir Bahagia Kisah ‘Cinderella' Ala Bhayangkara FC

Red: Ratna Puspita
ANTARA/Suwandy
Pesepak bola Bhayangkara FC Ilija Spasojevic (kedua kanan) berusaha menguasai bola dengan pengawalan ketat tiga pesepak bola Bali United pada Gojek Traveloka Liga 1, di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Jawa Barat, 29 September 2017. Spaso, yang didatangkan pada paruh musim, mampu tampil sebagai pembeda buat Bhayangkara di laga-laga penting.
Pesepak bola Bhayangkara FC Ilija Spasojevic (kedua kanan) berusaha menguasai bola dengan pengawalan ketat tiga pesepak bola Bali United pada Gojek Traveloka Liga 1, di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Jawa Barat, 29 September 2017. Spaso, yang didatangkan pada paruh musim, mampu tampil sebagai pembeda buat Bhayangkara di laga-laga penting.

Oleh Febrian Fachri

Wartawan Republika

Jika Anda menyimak perkembangan sepak bola dunia setidaknya tiga tahun terakhir maka pasti belum lupa dengan kisah Cinderella yang diciptakan klub kecil Leicester City. Klub berjuluk Kawanan Rubah itu baru promosi ke Liga Primer Inggris di musim 2014-2015. 

Setahun setelahnya, klub yang memiliki keuangan pas-pasan itu mampu mengejutkan dunia dengan mengalahkan tim-tim bersejarah dan mapan seperti Manchester United, Liverpool, Arseanl, Liverpool dan Chelsea dalam perburuan gelar juara Liga Primer.

Di bawah asuhan Claudio Ranieri, Leicester menjadi kampiun Liga Primer Inggris untuk kali pertama dalam sejarah klub yang bermarkas di Stadion King Power tersebut. Drama disajikan Leicester sepanjang musim 2015-2016. Hanya dengan modal semangat, mereka merebut kemenangan demi kemenagan meski berhadapan dengan klub-klub langganan papan atas Lig Inggris.

Kisah hampir serupa sepertinya terjadi di Liga 1 Indonesia 2017. Aktor utamanya adalah klub milik korps Kepolisian RI Bhayagkara FC. 

The Guardian memimpin klasemen Liga 1 sampai pekan ke-28. Hanya tersisa enam laga lagi buat Evan Dimas dan kawan-kawan untuk menentukan gelar juara pertama sepanjang sejarah klub yang belum genap berusia dua tahun itu. Kans Bhayangkara untuk juara cukup besar mengingat mereka kini unggul empat poin dari dua kompetitor, yakni Bali United dan Madura United.

Sedikit kilas balik ke dua tahun lalu, Bhayangkara didirikan tepatnya padal 12 April 2016. Klub ini merupakan penggabungan antara Surabaya United dan PS Polri. Surabaya United merupakan pecahan dari Persebaya Surabaya yang kini berkompetisi di Liga 2.

Nama pertama Bhayangkara adalah Bhayangkara Surabaya United. Mereka mulai ikut berkompetisi sejak turnamen Piala Bhayangkara 2015. Setelah itu, berlanjut ke liga tak resmi Indonesia Soccer Championship 2016. 

Di ISC, Bhayangkara finis di peringkat tujuh klasemen akhir. Nama mereka resmi berubah menjadi Bhayangkara FC sejak 1 September 2016. Mereka menghilangkan nama Surabaya untuk tujuan menghilangkan ciri kedaerahan.

Muhammad Syahrul Kurniawan (kiri) ketika masih memperkuat Bhayangkara Surabaya United (BSU) berusaha menghalangi pesepakbola Arema Cronus, Al Farisyi (kanan) pada pertandingan Torabika Soccer Championship (TSC), di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, 15 Mei 2016. (Sumber: Antara/Ari Bowo Sucipto)

Pengurus Bhayangkara FC ingin menunjukkan perbedaan sebagai tim yang general tanpa identitas kedaerahan yang selama ini jadi pemicu fanatisme dalam sepak bola. Bhayangkara ingin disebut sebagai klub milik semua masyarakat Indonesia karena mereka di bawah naungan nama besar institusi Polri.

Ketika Liga 1 2017 resmi diluncurkan sebagai kompetisi resmi pascavakum hampir tiga tahun lamanya, nama Bhayangkara tak masuk ke dalam prediksi favorit juara. Anak-anak asuhn pelatih asal Skotlandia Simon McMenemy ini dipandang sebagai tim peramai kompetisi. 

Bhayangkara tak terlihat menggeliat di bursa transfer. Tidak seperti Persib Bandung, Madura United, Pusamania Borneo, Arema bahkan PSM Makassar yang mengggelontorkan miliaran rupiah mendatangkan pemain-pemain berkelas seperti Michael Essien, Peter Odemwingie dn Edward Shane Smeltz.

Selain itu, pembicaraan seputar Bhayangkara FC juga tidak semenarik membahas klub-klub kawakan yang sudah punya fan base kuat semacam Arema, PSM, Persija Jakarta dan Persib. Jadinya tak ada yang menduga Bhayangkara perlahan namun pasti menjelma menjadi ancaman tim-tim langganan Liga 1.

Awal musim, start Bhayangkara tergolong biasa-biasa saja. Dalam tiga laga perdana, Evan Dimas Cs hanya menang sekali dan kalah dua kali. Grafik turun naik ini terus berlanjut sampai pertengahan musim.

Tapi, Bhayangkara tetap mampu bertahan di papan atas karena semua klub papan atas Liga 1 juga tak ada yang benar-benar stabil. Dari 17 laga putaran pertama, Bhayangkara memetik 10 kemenangan dan tujuh kekalahan tanpa sekalipun imbang.

Bhayangkara finis di urutan empat klasasemen paruh musim dengan nilai 30. Hanya tertinggal dua poin dari juara paruh musim Madura United.

Barulah saat liga memasuki putaran kedua, Bhayangkara memperlihatkan jati diri mereka. McMenemy hanya melakukan perbaikan kecil di dalam skuatnya dengan menjual Thiago Furtuoso ke Madura United dan mendatangkan Ilija Spasojevic dari Melaka United.

Spaso mampu tampil sebagai pembeda buat Bhayangkara di laga-laga penting. Bekas penyerang Persib Bandung itu mencetak enam gol hanya dalam sembilan penampilan.

Tapi jika melihat lebih jeli, kemenangan demi kemenagan yang direbut Bhayangkara lebih karena kecermatan McMenemy dalam merancang strategi permainan. Pelatih asal Skotlandia itu menjadikan Evan Dimas sebagai pemain yang bebas bergerak sebagai pengatur ritme permainan. 

Bintang timnas Indonesia U22 itu dibantu Paulo Sergio dan Lee Yoo-joon membantu pergerakan Spaso, Wahyu Subo dan Ilham Udin di lini depan. Evan membuat lini tengah Bhayangkara bergairah walau dalam pertandingan ketat sekalipun.

Pesepak bola Bhayangkara FC Evan Dimas Darmono (tengah) melakukan selebrasi bersama rekan-rekannya setelah menjebol gawang Sriwijaya FC dalam pertandingan Gojek Traveloka Liga 1 di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring (GSJ), Jakabaring Sport City (JSC), Palembang, Sumatra Selatan, 3 Maret 2017. Pada laga tersebut, Bhayangkara FC mengalahkan tuan rumah Sriwijaya FC dengan skor 1-2. (Sumber: Antara/Nova Wahyudi)

Tim-tim besar seperti Persib, Arema bahkan Bali United terperangah dengan catiknya operan kaki ke kaki Evan Dimas Cs. Kolaborasi apik pasukan McMenemu itu membuat Bhayangkara mencatatkan sembilan kemenangan, dua imbang tanpa sekalipun kalah di putaran kedua.

Andai catatan impresif ini terus berlanjut di enam laga yang tersisa, mengangkat tropi juara bagi Bhayangkara bukan lagi sekedar mimpi. Bhayangkara akan masuk ke dalam catatan sejarah dalam kompetisi utama sepak bola Indonesia, yang selama ini didominasi tim-tim yang sudah punya nama besar.

Sriwijaya FC mungkin punya cerita serupa di 2007 lalu. Sriwijaya dibentuk pada 2004 oleh Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan. Awalnya, tim ini adalah Persijatim yang mengalami kebangkrutan di tahun tersebut. Butuh tiga tahun buat Laskar Wong Kito mewujudkan gelar juara.

Tapi ketika itu, Sriwijaya melakukan perombakan gila-gilaan. Sriwijaya membajak pelatih cerdas Rahmad Darmawan dari Persija Jakarta. Bintang-bintang klub divisi utama dicomot seperti Zah Rahan, Cristian Lenglolo, Anoure Obiora dan Keith Kayamba Gumps dan Charis Yulianto. Kematangan skuat SFC saat persiapan membuat mereka memang sudah diprediksi akan juara sejak awal.

Berbeda dengan Bhayangkara saat ini. McMenemy hanya memiliki pemain-pemain muda yang belum teruji di kompetisi resmi seperti Evan Dimas , Ilham Udin dan Putu Gede. Pembelian Spaso pun tidak terlalu menghebohkan karena ia berstatus terbuang dari Melaka United.

Layak dinantikan sejauh mana tim yang semula dipandang sebelah mata ini mampu memberi kejutan. Jika Bhayangkara juara maka tak hanya memutus kebiasaan juara Liga 1 dari tim mapan dan punya nama besar. 

Bhayangkara akan berhak mengeklaim sebagai people of champions sesuai saat pergantian nama mereka September lalu yakni klub milik masyarakat Indonesia, klub milik aparat penegak hukum Indonesia.