Selasa , 14 November 2017, 05:57 WIB

Hargai Tetesan Keringat Pemain Bhayangkara!

Red: Elba Damhuri
Saful Bahri/Antara
Bhayangkara FC melakukan selebrasi dengan menjunjung pelatih mereka, Simon Mc Menemy (atas) usai mengalahkan Madura United dengan skor 1-3 dalam laga Gojek Traveloka Liga 1 di Stadion Gelora Bangkalan (SGB) Bangkalan, Jawa Timur, Rabu (8/11).
Bhayangkara FC melakukan selebrasi dengan menjunjung pelatih mereka, Simon Mc Menemy (atas) usai mengalahkan Madura United dengan skor 1-3 dalam laga Gojek Traveloka Liga 1 di Stadion Gelora Bangkalan (SGB) Bangkalan, Jawa Timur, Rabu (8/11).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Febrian Fachri, Jurnalis Republika untuk Isu-Isu Sepak Bola

Kompetisi Liga 1 2017 baru saja selesai. Kompetisi yang berlangsung selama delapan bulan ini menghasilkan juara baru dalam sejarah sepak bola Indonesia. Tim 'Kemarin Sore' Bhayangkara FC untuk pertama kalinya merasakan gelar juara Liga Indonesia sepanjang sejarah dua tahun klub tersebut berdiri.

Bhayangkara finis di urutan pertama klasemen akhir setelah melewati 34 pekan pertandingan. Poin The Guardian berjumlah 68. Mereka hanya unggul head to head dari pesaing utama Bali United.

Drama dan kontroversi menyelimuti dua pekan menjelang klub milik Korps Kepolisian RI itu mengangkat trofi juara. Awalnya tim yang diunggulkan menjadi kampiun adalah Serdadu Tridatu.

Momen penting didapatkan Bali  ketika mereka memenangkan duel akbar di markas PSM Makassar di pekan ke 33. Kemenangan yang berbuah simpati dan decak kagum penggemar sepak bola tanah air. Sejak awal, pengamat sepak bola sudah menyebut duel Juku Eja dan anak-anak Pulau Dewata adalah penentu gelar juara. Hasilnya Bali membawa kemenangan tipis 1-0 berkat gol bintang Indonesia Stefano Lilipaly di penghujung laga.

Saat itu, banyak yang berpikir Bali tak ada halangan lagi untuk menjadi juara melihat bagaimana membajanya mental anak-anak asuh pelatih Widodo Cahyono Putro. Rangkuman Republika begitu pekan ke 33 Liga 1 selesai, Bali United ada di puncak klasemen. Unggul dua angka dari Bhayangkara FC dan tiga poin.

PSM sudah dipastikan gagal juara karena mustahil bagi mereka mengudeta Bali karena kalah head to head. Jadilah satu pekan terakhir, gelar juara tinggal menjadi mimpi yang bisa diwujudkan Bali United dan Bhayangkara FC. Bhayangkara ada keuntungan karena punya tabungan satu laga sisa yang tertunda melawan Madura United.

Drama kontroversial itu terjadi pada Rabu (8/11). Beberapa jam sebelum Bhayangkara melawan Madura, Komisi Disiplin PSSI menjatuhkan hukuman kepada Mitra Kukar karena memainkan pemain ilegal di pekan ke 33 melawan Bhayangkara di Tenggarong. Jadinya Bhayangkara mendapat hadiah dua poin dari Komdis. Otomatis Bhayangkara naik ke puncak klasemen
secara gratis. Dengan kata lain dua angka itu didapatkan dari balik meja, bukan lapangan hijau.

Jagat sepak bola mulai heboh dan mengira ada permainan di tubuh Komdis untuk memudahkan perjuangan Bhayangkara yang notabene klub milik pemerintah di bawah institusi Polri.

Hujatan semakin menjadi-jadi karena di laga tunda di Stadion Gelora Bhayangkara menang 3-1 dari tuan rumah Madura United. Laga ini diwarnai empat kartu merah terhadap pemain tuan rumah. Peter Odemwingie membeberkan pemain Laskar Sape Kerrab diintimidasi oleh aparat kepolisian yang berjaga di pertandingan. Intimidasi pun kata Odemwingie sampai ke ruang ganti pemain Madura.

Lengkaplah sudah faktor yang membuat publik sulit mengakui gelar juara untuk Bhayangkara. Klub yang cikal bakalnya lahir karena dualisme di tubuh Persebaya Surabaya.

Media sosial resmi milik Bhayangkara FC diserbu netizen dengan berbagai ragam komentar pedas. Mereka rata-rata menolak menganggap Bhayangkara sebagai juara dan menghujat PSSI yang dinilai gagal menciptakan kompetisi yang fair.

Saya sebagai penggemar sepak bola lokal juga ada sisi pemikiran yang menyayangkan aksi blunder Komdis di menit terakhir. Andaikan saja drama penambahan poin ini tak terjadi, PSSI bisa menuai apresiasi karena melahirkan juar sejati.