Selasa , 14 November 2017, 15:34 WIB

'Manajemen Administrasi dan Kompetisi Liga 1 Bermasalah'

Rep: Frederikus Bata/ Red: Israr Itah
ANTARA FOTO/Risky Andrianto
Pesepak bola Bhayangkara FC Alsan Putra Masat Sanda (tengah) menggiring bola melewati hadangan pesepak bola Mitra Kukar pada pertandingan Liga 1, di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (21/7).
Pesepak bola Bhayangkara FC Alsan Putra Masat Sanda (tengah) menggiring bola melewati hadangan pesepak bola Mitra Kukar pada pertandingan Liga 1, di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (21/7).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat sepak bola Mohamed Kusnaeni angkat bicara terkait polemik juara Liga 1, Bayangkara FC. Sosok yang akrab disapa Bung Kus menilai momen ini menjadi bukti adanya permasalahan manajemen komunikasi dan administrasi kompetisi.

Ini terkait apa yang terjadi dari laga Bayangkara vs Mitra Kukar. Duel pada pekan ke-33 sejatinya berakhir 1-1. Namun, Komisi Disiplin PSSI memutuskan nama pertama unggul 3-0 karena laskar Naga Mekes disebut menurunkan pemain yang dilarang tampil, Mohamed Sissoko.

"Apakah benar hukuman yang dijatuhkan oleh komdis sudah didistribusikan dengan segera kepada pihak-pihak yang terkait. Karena itu jatuhnya hukuman dari komdis dengan pelaksanaan pertandingan, mepet waktunya. Jadi dalam keadaan seperti itu, harus dilakukan komunikasi yang intens, yang segera. Bukan sekedar di email, tapi dikontak langsung," kata pria asal Jawa Barat saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (14/11).

Ia melanjutkan, selain dikontak langsung, harusnya komdis membuat nota larangan bermain untuk pesepak bola yang dituju. Sehingga menjelang laga dimulai, pengawas pertandingan bisa mengetahui dengan akurat.

"Jadi masalah kan, banyak beredar, nota larangan bermain yang ditujukan bukan kepada Sissoko, tapi kepada Herwin (Tri Saputra) dan pemain Bayangkara Indra Kahfi. Jadi dalam konteks itu, diturunkannya Sissoko masuk akal karena belum ada nota larangan bermain," ujar Kusnaeni.

Kendati demikian, menurutnya klub juga berkewajiban untuk mengadministrasikan hal-hal detail mengenai persiapan line up. Jadi, tanpa menunggu teguran, setiap tim sudah tahu mana pemain yang bisa tampil dan mana yang tidak.

Persoalan dalam sebuah kompetisi pernah terjadi di Serie A. Di mana tim yang dinyatakan bersalah dikurangi poin. Dalam kasus ini, analoginya, Mitra Kukar mendapat pengurangan, bukan menambah poin Bhayangkara.

Menurut Bung Kus, dua kejadian tersebut berbeda konteks. Apa yang terjadi di Italia adalah upaya sistematis dan masif, dilakukan secara terstruktur, untuk menggiring hasil akhir kompetisi sesuai dengan keinginan pihak-pihak tertentu.

"Kecuali ada yang bisa membuktikan, adanya pengaturan semacam itu. Logikanya keputusan mengubah hasil akhir pertandingan, otomatis tim yang mendapat kemenangan, harus mendapat tiga poin, itu clear. Yang agak aneh, ketika dinyatakan WO. Skornya yang patut dipermasalahkan, kenapa 0-3, kenapa bukan 0-4, kan hangus golnya Mitra Kukar," tutur Kusnaeni.

Ia menerangkan, Komdis PSSI yang menilai fakta-fakta persidangan. Kemudian mendengar langsung dari kedua belah pihak, dan operator. Selanjutnya memutuskan hukuman sesuai jenis kesalahan.

"Intinya kenapa Mitra Kukar memainkan Sissoko, ada tidak nota dari Komdis, buktinya apa? Kalau tidak ada bukti mereka telah mengirimkan nota larangan bermain, nah, itu yang jadi permasalahan," ujar Kusnaesni.




Sumber : Center