Sabtu , 18 November 2017, 18:05 WIB

Janji Gombal Perubahan Ala PSSI

Red: Elba Damhuri
Saiful Bahri/Antara
Ofisial dan pesepak bola Bhayangkara FC melakukan selebrasi usai mengalahkan Madura United dengan skor 1-3 dalam laga Gojek Traveloka Liga 1 di Stadion Gelora Bangkalan (SGB) Bangkalan, Jawa Timur, Rabu (8/11).
Ofisial dan pesepak bola Bhayangkara FC melakukan selebrasi usai mengalahkan Madura United dengan skor 1-3 dalam laga Gojek Traveloka Liga 1 di Stadion Gelora Bangkalan (SGB) Bangkalan, Jawa Timur, Rabu (8/11).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Febrian Fachri

PSSI era baru setelah pembekuan oleh FIFA selesai menggulirkan kompetisi Liga 1 Indonesia. Kompetisi ini berjalan di bawah operator PT Liga Indonesia Baru. Seakan sesuai dengan namanya, PT LIB menghasilkan juara baru untuk Liga 1. Adalah Bhayangkara FC, klub yang baru berusia dua tahun, mengalahkan para pesaing yang rata-rata adalah klub lawas.

Bhayangkara memenangkan persaingan dengan Bali United sampai pekan terakhir hanya dengan keunggulan head to head.

Sayangnya, di pengujung kompetisi, Komisi Disiplin PSSI dan PT LIB membuat blunder fatal yang menodai sportivitas. Federasi dan operator seakan membantu memuluskan langkah the Guardian untuk mencatatkan sejarah sebagai juara.

Komdis memberikan hukuman kepada Mitra Kukar, lawan Bhayangkara di pekan ke-33, dengan kekalahan 3-0. Padahal, laga yang digelar di Stadion Aji Imbut, Tenggarong, itu berakhir dengan skor sama kuat 1-1.

Jadinya Bhayangkara FC mendapatkan suntikan dua angka secara cuma-cuma. Dua angka yang menjadi kunci bagi Evan Dimas dan kawan-kawan menyalip Bali United di dua tikungan akhir. Andai tidak ada penambahan dua angka tersebut,

Bhayangkara bisa saja gagal juara karena dalam laga terakhir mereka kalah 2-1 oleh Persija Jakarta. Pada laga lain, Bali United sukses memenangkan laga pamungkas dengan skor 3-0 atas Persegres Gresik United.

Publik penggemar sepak bola Indonesia melalui media massa dan media sosial menghujani kubu Bhayangkara, PSSI, dan PT LIB beragam kritik. Mereka menduga adanya praktik mafia secara terang-terangan yang menodai sportivitas sepak bola dalam negeri.

Pemberian jatah dua angka kepada Bhayangkara dinilai sangat menggelikan. Terlebih, hukuman terhadap Mitra Kukar masih bisa diperdebatkan. Jika kita bandingkan dengan sepak bola Eropa, jika ada klub yang terbukti melanggar aturan, hukumannya adalah pengurangan poin klub pelaku, bukan malah menambah poin klub korban.

Keanehan dalam menjatuhkan sanksi terhadap Mitra Kukar ini disoroti oleh pengamat sepak bola Indonesia Mohamad Kusnaeni. Namun, dia masih belum mau buru-buru memberikan kesimpulan adanya praktik mafia. Kusnaeni mengkritik kalau kejadian ini adalah blunder fatal karena buruknya komunikasi antara Komdis, PT LIB, dan pihak klub dalam mendistribusikan hukuman yang dijatuhkan.

"Banyak beredar nota larangan bertanding tidak kepada Sissoko. Tapi kepada dua nama lain. Masuk akal kalau Sissoko diturunkan," kata Kusnaeni.

Setelah blunder di saat akhir, PSSI pun mengakui telah gagal menciptakan kompetisi yang baik. Ketum PSSI Edy Rahmayadi tak mau berkilah. Dengan berani ia mengakui sangat berat dalam mengeloa sepak bola nasional.

"Saya gagal tahun ini, gagal memenuhi target, PSSI tak berhasil saya bina," ujar Edy saat diwawancarai Republika.

(Tulisan diolah M Akbar).

Berita Terkait