Selasa , 21 Maret 2017, 07:03 WIB

Vardy Dapat Ancaman Pembunuhan Sejak Ranieri Dipecat

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Andri Saubani
REUTERS/Darren Staples
Pelatih Leicester City, Claudio Ranieri (kiri) menarik keluar striker, Jamie Vardy pada laga Liga Primer lawan Southampton, Ahad (2/10). Laga yang digelar di stadion King Power itu berakhir imbang tanpa gol.
Pelatih Leicester City, Claudio Ranieri (kiri) menarik keluar striker, Jamie Vardy pada laga Liga Primer lawan Southampton, Ahad (2/10). Laga yang digelar di stadion King Power itu berakhir imbang tanpa gol.

REPUBLIKA.CO.ID, LEICESTER – Striker Leicester City, Jamie vardy, mengatakan, ia dan keluarganya menerima ancaman pembunuhan, yang telah ditargetkan sejak Claudio Ranieri dipecat dari jabatan pelatih. Vardy sebelumnya dipersalahkan dan dituduh terlibat dalam mempengaruhi keputusan klub untuk memecat pelatih asal Italia itu. Kepada media, Vardy menyebut tuduhan itu sebagai hal yang menyakitkan.

Ranieri didepak Leicester pada Februari lalu, hanya sembilan bulan setelah memenangkan gelar Liga Primer Inggris. Ia pergi saat the Foxes terjatuh ke posisi 17 klasemen Liga Primer. Sementara itu, pengganti Ranieri, Craig Shakespeare, membantah laporan adanya satu pemberontakan pemain.

“Ini menakutkan. Saya membaca satu cerita yang mengatakan saya secara personal terlibat dalam pertemuan setelah pertandingan Sevilla, saat saya benar-benar duduk di Badan Antidoping selama tiga jam. Tapi kemudian cerita di luar sana, orang-orang menganggapnya dan melewatinya, dan anda mendapat ancaman kematian tentang keluarga anda, anak, semuanya," kata Vardy, dilansir dari BBC, Selasa (21/3).

Pemain berusia 30 tahun ini mengatakan, ia sebenarnya mampu untuk segera bertindak. Namun, hal itu bukan tindakan tepat pada saat orang-orang mencoba untuk melukai istrinya sementara ia mengemudi dan anak-anaknya ada di bagian belakang mobil.

Setelah kekalahan 1-2 dari Sevilla di Liga Champions, beberapa pemain Leicester memang dipanggil oleh presiden klub. Sementara, nasib Ranieri itu adalah reaksi negatif yang direspons oleh klub.

Vardy mengatakan, saat ada masalah, para pemain menyelesaikan hal itu di papan taktik. Ranieri kerap senang saat pemain datang dan menerima pendapat pemainnya. Karena itu, striker asal Inggris ini mengatakan cerita palsu yang dituduhkan kepadanya cukup menyakitkan. "Banyak tuduhan palsu dilemparkan di luar sana dan tak ada kita, sebagai pemain, bisa lakukan soal itu. Kami hanya harus meletakannya di belakang pikiran kita dan fokus pada sepak bola," tambahnya.

Sejak Shakespeare menjabat, the Foxes telah memenangi empat pertandingan berturut-turut, merangkak naik ke posisi 15 klasemen, dengan enam angka di atas zona degradasi. Itu mencakup kemenangan 2-0 melawan Sevilla pada leg kedua babak 16 besar Liga Champions, yang membuat Leicester sebagai satu-satunya wakil Inggris yang maju ke perempat final.