Ahad , 18 Juni 2017, 05:22 WIB

Menangi Play-Off Serie C, Parma Meniti Jalan ke Serie A

Rep: Gilang Akbar Prambadi/ Red: Israr Itah
Parma Calcio 1913
Parma Calcio 1913
Parma Calcio 1913

REPUBLIKA.CO.ID, FIRENZE -- AC Parma berhasil mendapatkan tiket terakhir untuk lolos ke Serie B. Berlaga pada final play-off Liga Serie C Pro, klub yang kini bernama Parma Calcio 1913 itu menaklukkan lawannya Alessandria, Ahad (18/6) dini hari WIB. Artinya, musim depan Parma akan bermain di kasta kedua yang berada satu setrip di bawah Serie A.

Ini jadi kemenangan penuh arti bagi Parma setelah diputuskan bangkrut oleh pengadilan Italia pada pertengahan 2015 silam. Kala itu, putusan tersebut membuat Parma harus mengubah nama resmi mereka menjadi Parma Calcio 1913. Tak hanya soal putusan pergantian nama, Parma juga harus menerima titah pengadilan yang memutuskan mereka turun tiga kasta dari Seria A ke Serie D.

Nama besar Parma yang pernah punya skuat dengan gerbong penuh bintang dunia pun seketika sirna saat itu. Bagi pecinta sepak bola, siapa tak kenal Lilian Thuram dan Sebastian Frey (legenda Prancis), Fabio Cannavaro, Gianfranco Zola, Alberto Gilardino, Gianluigi Buffon, dan Marco Di Vaio (legenda Italia), Fernando Couto (legenda Portugal), Hidetoshi Nakata (legenda Jepang), Adriano (legenda Brasil) serta Hernan Crespo dan Juan Sebastian Veron (legenda Argentina).

Pada masanya, para bintang lapangan hijau itu adalah penggawa I Gialloblu (kuning-biru) yang jersey bertuliskan nama mereka ramai digunakan anak-anak generasi 1990-an. Dengan desain jersey yang khas bertuliskan Parmalat (sponsor klub) plus paduan warna kuning dan biru membuat kostum Parma seolah wajib dimiliki saat itu. Termasuk di Indonesia, sulit untuk tidak bangga ketika menggunakan jersey bertuliskan ‘Nakata’ yang dulu jadi sosok ikonik asal Asia.

Sempat menjadi klub yang sangat ditakuti di era pertengahan 1990 sampai awal 2000an, Parma harus mengalami puncak nasib buruk pada Juni 2015 lalu. Semua berawal ketika Parmalat, produsen susu yang jadi sponsor utama Parma bangkrut. Setelah tertatih masalah keuangan sejak memasuki tahun 2000, Parmalat benar-benar gulung tikar tiga tahun kemudian dengan utang mencapai Rp 121 triliun (kurs saat itu).

Tanpa adanya lagi sokongan dana, bintang-bintang yang masih bertahan di Parma kala itu seperti Sebastian Frey, Adrian Mutu, Adriano, Fabio Cannvaro, Marco Di Vaio, hingga Alberto Gilardino dilego dengan nilai mencapai Rp 2 triliun. Dengan banyaknya pemain bintang yang keluar, prestasi Parma pun terus merosot.