Rabu , 15 November 2017, 06:19 WIB

Tangis Perpisahan Gianluigi Buffon

Red: Elba Damhuri
EPA/Georgi Licovski
Gianluigi Buffon (kiri) dan Leonardo Bonucci.
Gianluigi Buffon (kiri) dan Leonardo Bonucci.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Gilang Akbar Prambadi

Kolam air mata yang muncul di Stadion San Siro, Kota Milan, Italia, pada Selasa (14/11) dini hari WIB, benar-benar terlihat sangat pekat. Kegelapan seolah menyelimuti stadion yang menjadi markas dua klub besar Italia, Inter Milan dan AC Milan tersebut.

Para pemain, tim ofisial, hingga tifosi yang memadati San Siro kompak menangisi kegagalan Italia lolos ke Piala Dunia 2018. Italia dipastikan untuk pertama kalinya tak lolos ke Piala Dunia dalam 60 tahun terakhir. Gli Azzurri kalah bersaing dari Swedia pada fase play-off yang leg keduanya digelar di San Siro.

Dari puluhan ribu pasang mata yang meneteskan air mata, kapten tim Gianluigi Buffon terlihat paling menyimpan luka. Entah kebetulan atau tidak, jersey, celana, kaus kaki, sepatu, hingga sarung tangan yang digunakan Gigi (sapaan akrab Buffon) pada laga tersebut berwarna hitam. Seolah menjadi pertanda, Buffon akan mengakhiri pertandingan kontra Swedia dengan awan hitam memayungi Kota Milan.

Kiper berusia 39 tahun ini tersedu pada sesi wawancara yang dilakukan hanya beberapa saat usai laga selesai. Belum kering liur di peluit wasit Antonio Mateu, Buffon mau berbagi isi perasaannya.

Dalam kesempatan tersebut, Buffon mengumumkan pensiun dari timnas Italia. Sontak, publik San Siro yang mendengar pernyataan kiper milik Juventus ini pun kian dirundung duka.

Hebatnya, Buffon tak meminta untuk dikasihani. Kiper yang masuk ke dalam daftar 100 pemain terbaik sepanjang masa versi FIFA ini malah meminta maaf.

"Maaf untuk selesai seperti ini, saya yakin tadi adalah laga terakhir saya bersama timnas. Saya tidak menyesali karier saya, yang saya sesali adalah tak bisa membawa negara ini ke Piala Dunia," kata Buffon sambil berderai air mata kepada Rai TV, seusai laga.

Buffon memang dikenal punya pribadi sentimental. Bila sedih, kapten Bianconerri ini tak malu untuk meneteskan air mata. Momen tersebut juga pernah terjadi ketika Italia terhenti di perempat final Piala Eropa tahun lalu. Namun, kali ini sangat berbeda.

Buffon tersedu, mata dan wajahnya sangat merah. Siapa pun yang tumbuh di era sepak bola tahun 1990-an niscaya ikut tersayat melihat tangisannya.

"Sangat memalukan karena saya harus mengakhiri karier di laga resmi bersama Nazionale (Italia) dengan cara seperti ini," kata Buffon.

Tapi bukan Buffon namanya jika membiarkan air mata yang menetes berubah menjadi kubangan penyesalan untuknya. Jebolan akademi Parma tahun 1995 ini langsung mengajak seluruh pecinta timnas Italia untuk tetap optimistis. Buffon yakin, masa depan Italia akan baik-baik saja dengan generasi baru yang lebih menjanjikan.

"Saya meninggalkan timnas Italia. Kami masih punya Gigio Donnarumma dan Mattia Perin untuk jadi penerus saya. Terimakasih untuk semua. Saya yakin Italia akan segera bangkit selama generasi baru punya kebanggaan, determinasi, dan kemampuan," kata Buffon.

Profil singkat Buffon di timnas Italia:
- Debut: 29 Oktober 1997, (19 tahun dan sembilan bulan)
- Jumlah penampilan: 175 (terbanyak sepanjang sejarah Italia), 79 di antaranya sebagai kapten (terbanyak sepanjang sejarah timnas Italia)

Prestasi bersama timnas:
1. Anggota skuat Piala Dunia 1998, 2002, 2006, 2010, 2014
2. Anggota skuat Piala Eropa 2004, 2008, 2012, 2016
3. Juara Piala Dunia 2006
4. Kiper terbaik Piala Dunia 2006

(Tulisan diolah oleh Abdullah Sammy)