Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Kisah Para Muslimah Pengubah Wajah Dunia

Jumat 08 Mar 2019 10:08 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Seorang Muslimah melintas di jalan raya dengan latar belakang masjid Berlin

Seorang Muslimah melintas di jalan raya dengan latar belakang masjid Berlin

Foto: www.worldbulletin.net
Sejak 14 Abad silam para Muslimah telah menjadi pelopor dan mengubah wajah dunia

Oleh: Uttiek M Panji Astuti, Traveler dan Penulis Buku

Hari ini, delapan Maret ditandai sebagai International Women Day. Pada tahun 1977, International Women Day atau Hari Perempuan Internasional diresmikan sebagai perayaan tahunan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memperjuangkan hak perempuan dan mewujudkan perdamaian dunia.

Namun, perlu dipahami, sejak 14 abad silam, Islam telah mengakui hak-hak perempuan. Berabad-abad sebelum PBB meresmikannya, peradaban Islam telah berhasil mencetak perempuan-perempuan luar biasa yang mengubah wajah dunia.
Tersebutlah di sebuah dusun, nun jauh di satu titik di Benua Afrika, benderang itu muncul. Al Qarawiyyin, nama dusun itu.

Sejak tahun 859 telah berdiri universitas yang menawarkan gelar kesarjanaan. Sebuah sistem pendidikan yang masih dipergunakan hingga saat ini.

Tak kurang hebat, pendirinya pun seorang perempuan. Anak saudagar kaya bernama Fatimah Al Fikhri yang mendermakan sebagian kekayaannya untuk mengongkosi universitas yang didirikannya. Seratus tahun kemudian Universitas Al-Azhar yang termasyur di Mesir baru berdiri, dan tiga abad kemudian, Universitas Oxford di Inggris baru mengikuti.

MasyaAllah. Universitas pertama di dunia ini didirikan oleh seorang muslimah!
Pada jejak-jejak sejarah yang ditinggalkan daulah Islam, terbaca jelas bagaimana perempuan dan laki-laki mendapat akses pendidikan yang sama.
Madrasah-madrasah khusus perempuan didirikan berdampingan dengan madrasah untuk laki-laki. Hak mendapat pendidikan yang sama inilah yang memunculkan perempuan-perempuan luar biasa.

Tak hanya Fatimah Al Fikhri. Sutaita al-Mahamali, seorang ilmuwan perempuan ahli aritmatika dari Baghdad. Ia berhasil membuat catatan lengkap tentang sistem persamaan dalam matematika. Buah pikirnya itu masih dikutip oleh matematikawan lainnya sampai berabad-abad kemudian.

Kehebatannya di bidang aritmatika, mengundang pujian dari para alim, seperti Ibnu al-Jauzi hingga Ibnu Katsir.

Masih ada lagi matematikawan perempuan yang mencengangkan dari kota Cordoba, Andalusia. Cordoba yang bermandikan cahaya pengetahuan melahirkan seorang cendekiawan muslimah bernama Labana. Karena kecerdasannya, Khalifah al-Hakam II mengangkatnya sebagai salah satu penasihatnya.

Muslimah tidak hanya berkesempatan menjadi penasihat sultan. Imam as-Suyuti pun tercatat pernah belajar pada 33 guru perempuan. Itu berarti seperempat dari seluruh jumlah gurunya.Lalu Ibn Hajar belajar pada 53 guru perempuan. Imam as-Sakhawi belajar pada 68 guru perempuan.Riset itu dilakukan dan telah dipublikasikan oleh Aisha Abdurrahman Bewley dalam bukunya “Muslim Woman: A Biographical Dictionary.”

Jauh sebelum para cendekiawan muslimah itu lahir, Ummul Mukminin Aisyah tercatat sebagai perempuan yang luar biasa kecerdasannya. Ia meriwayatkan tak kurang dari 2.210 hadits. Jumlah ini lebih banyak dibanding Ibnu Abbas yang meriwayatkan 1.660 hadits.

Seperti diketahui, ada tujuh orang yang meriwayatkan hadits terbanyak, yakni Umar bin Khathab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Ummul Mukminin Aisyah, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Abbas dan Abdullah bin Umar.

Pada masa Rasulullah SAW pun telah tercatat perempuan-perempuan luar biasa di bidang medis. Seperti perawat muslim pertama dalam sejarah Islam, Rufayda binti Saad al-Islamiyya di Perang Badar.

Lalu ada Nusayba binti Kaab Al Mazeneya, perawat medis di Perang Uhud. Ummu Matawe al-Aslamiyya di Perang Khaybar. Dan masih banyak lagi.

Kalau kita sekarang mengenal GPS sebagi petunjuk arah. Pada abad 10, muslimah bernama Mariyam al-Astrolabiya al-Ijliya telah berhasil membuat astrolabe. Sebuah perangkat astronomi kuno yang menjadi cikal bakal GPS saat ini.

Di Indonesia pun tercatat muslimah-muslimah tangguh pembela agama Allah. Seperti Laksamana Keumalahayati, atau yang lebih dikenal Laksamana Malahayati dari Aceh. Admiral perempuan yang mendapat pelatihan langsung dari militer Daulah Utsmani.
Lalu, Nyai Walidah Ahmad Dahlan. Pendiri organisasi Sopo Tresno yang menjadi cikal bakal Aisyiyah. Saya tidak bisa membayangkan di tahun 1917, seorang perempuan berjilbab rapat, berdiri di depan mimbar, memimpin orasi pendirian sebuah organisasi untuk perempuan.

Torehan sejarah para muslimah itu tidak hanya luar biasa. Tapi juga mengubah wajah dunia.

Masih mempertanyakan posisi perempuan dalam Islam?

Jumuah Mubarak, everyone!


Solo, 8/3/2019

 

Uttiek
Follow me on IG @uttiek.herlambang
Tulisan dan foto-foto ini telah dipublikasikan di www.uttiek.blogspot.com dan akun media sosial @uttiek_mpanjiastuti

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA