Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Kemenpora dan PSSI Pertaruhkan Nyawa Klub Sepak Bola

Rabu 05 Agu 2015 12:56 WIB

Rep: Ali Mansur/ Red: Citra Listya Rini

PSSI

PSSI

Foto: Antara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keputusan PSSI untuk kembali menjalankan roda kompetisi, mulai dari Indonesia Super League (ISL), Divisi Utama (DU), Liga Nusantara hingga kategori umur bak buah simalakama bagi klub.

Seharusnya keputusan lembaga tertinggi sepak bola Indonesia itu menjadi kabar menyenangkan bagi peserta kompetisi, terutama klub ISL. Dengan demikian roda perekonomian klub, pendapatan para pemain, pelatih juga perangkat pertandingan berjalan kembali.

Namun di satu sisi mereka juga terancam bakal terpelosok di lubang yang sama. Yaitu kompetisi yang mereka ikuti terhenti di tengah jalan. Akibatnya para kontestan pun menderita kerugian yang cukup banyak, tidak hanya itu para sponsor juga akan meninggalkan mereka. Kekhawatiran mereka hal yang wajar, mengingat polemik antara Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dengan PSSI belumlah tuntas.

Bahkan kabar terakhir, kubu Kemenpora  mengajukan banding atas kekalahan mereka dari PSSI di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) bulan lalu. Maka dengan demikian, sangat besar peluang Surat Keputusan (SK) pembekuan PSSI kembali aktif. Sehingga seluruh kompetisi yang berada di bawah naungan PSSI tidak bisa dijalankan, sesuai dengan perintah SK bernomor 01307 tahun 2015.

Kekhawatiran terulang kembali peristiwa beberapa bulan silam masih menyelimuti para kontestan, baik ISL, DU, Liga Nusantara dan juga kelompok umur. Salah satunya, klub yang bermukim di Pulau Dewata, Bali, Bali United Pusam. Seperti yang diungkap CEO Bali United, Yabes Tanuri.

"Kami senang mendengar PSSI dan PT Liga Indonesia kembali memutar ISL, artinya kami bisa hidup lagi," kata Tanuri, saat dihubungi melalui seluler.

Namun  yang ditakutkan Yabes adalah saat kompetisi tengah berjalan, kemudian Kemenpora memenangkan gugatannya, maka secara tak langsung SK pembekuan kembali berlaku. Sehingga kompetisi yang tengah berjalan pun harus kembali berhenti, seperti peristiwa tiga bulan lalu.

Jika hal ini kembali terjadi, klub akan dirugikan lagi. Bahkan bisa membunuh klub peserta kompetisi karena dua kali klub mengalami kerugian besar. Kekhawatiran tidak hanya dialami oleh klub ISL, peserta DU pun demikian, Persatuan Sepak Bola Kabupaten Serang (Perserang) misalnya.

Manajer Perserang Babay Karnawi mengaku masih memiliki keraguan kompetisi DU bisa berjalan lancar hingga akhir musim.  Perserang tidak ingin mengalami kerugian untuk yang kedua kalinya.  Apalagi Perserang diakuinya, hanya klub kecil, dan tidak memiliki dana yang melimpah untuk mengganti kerugian akan terjadi nanti.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA