Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Studi: Wasit Kini Lebih Keras kepada Tim Tuan Rumah

Kamis 05 Jan 2017 15:53 WIB

Rep: Agus Raharjo/ Red: Andri Saubani

Wasit mengkartu merah bek Bournemouth, Simon Francis pada laga Liga Primer lawan Arsenal di stadio Vitaly, Rabu (3/1) dini hari WIB. Belakangan wasit sering memberikan kartu merah kepada pemain tim tuan rumah.

Wasit mengkartu merah bek Bournemouth, Simon Francis pada laga Liga Primer lawan Arsenal di stadio Vitaly, Rabu (3/1) dini hari WIB. Belakangan wasit sering memberikan kartu merah kepada pemain tim tuan rumah.

Foto: REUTERS/Dylan Martinez

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON—Liga Primer Inggris telah menaikkan secara berkala kompetensi seorang wasit yang akan memimpin laga. Hanya wasit dengan kompetensi teruji yang dapat memimpin pertandingan di kompetisi sepak bola Inggris, terutama Liga Primer. Namun, naiknya kompetensi dan kemampuan dari seorang wasit ini justru merugikan pihak tuan rumah. 

Hal itu diungkap dari sebuah penelitian ilmuwan olahraga Universitas Pourtsouth, Dr. Tom Webb. Dalam studinya, Webb meneliti kemampuan wasit sejak akhir Perang Dunia II. Hasilnya, kompetensi ‘fair play’, peningkatan kemampuan fisik, teknik, dan psikologi seorang wasit sejalan dengan sikapnya yang adil dalam sebuah pertandingan sepak bola. 

Bahkan, keputusan wasit dengan tingkat standar yang lebih tinggi ini tak jarang justru merugikan tim tuan rumah. Hasil inilah yang selama ini tidak diduga oleh banyak pihak. Penelitian menunjukkan dalam beberapa dekade terakhir, keuntungan tim sebagai tuan rumah pertandingan semakin terkikis.

“Kami telah melihat adanya penurunan yang lambat keuntungan tuan rumah sejak akhir Perang Dunia II, namun kini seluruh keuntungan lenyap bagi tim tuan rumah di sepakbola profesional Inggris ,” tutur Webb dikutip dari the Sun, (5/1). Kondisi saat ini, seluruh wasit yang memimpin laga sepak bola di Inggris tidak terpengaruh pada atmosfer suporter tim tuan rumah. 

Kinerja wasit benar-benar diawasi menggunakan kamera yang terus memantau pergerakan mereka serta pemain. Setiap pergerakan maupun keputusan yang dibuat seorang wasit akan dianalisis pakar serta ahli. Ini membuat standar seorang wasit terus naik.

Sebelumnya, setiap pertandingan memberi keuntungan bagi tim tuan rumah. Ada beberapa faktor yang membuat tuan rumah selalu diuntungkan. Antara lain, tim tamu kelelahan akibat perjalanan dan harus bermain di lingkungan yang asing. Lalu, keputusan wasit cenderung memihak tim tuan rumah. Selain itu adanya efek dukungan dari suporter tuan rumah, ofisial pertandingan atau keduanya.

Namun, adanya peningkatan kemampuan fisik, teknik, dan psikologi bagi seorang wasit menghasilkan keputusan yang sangat jauh dari keuntungan tim tuan rumah. Dr. Webb mengatakan, saat ini penekanan standar yang lebih tinggi untuk seoarang wasit. “Kebugaran fisik, didukung dengan kenaikan jumlah pelatih atau mentor yang membantu wasit mengidentifikasikan kelemahan dalam pengambilan keputusan mereka serta mendukung ketahanan mereka, telah menyingkirkan keuntungan bagi tuan rumah,” ujar Webb.

Penelitian yang dilakukan Dr. Webb sudah dilakukan sejak tahun 1940-an. Dia menggali data dengan wawancara mendalam pada 18 orang, yaitu wasit, mantan wasit, penilai wasit, pelatih wasit, manajer serta administrator yang terkait dengan wasit. Salah satu sumber penelitian mengungkapkan bahwa saat ini wasit mendapatkan 100 kali lebih dukungan dan mendapatkan informasi lebih banyak serta mendapat bimbingan dari yang pernah dimiliki wasit era 1988. Sumber lain mengungkap, penggunaan video yang mampu memutar ulang kejadian membuat wasit dapat meninjau keputusannya, selain itu, seorang wasit dapat berkonsultasi dengan asisten wasit untuk membahas keputusan yang diambilnya.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA