Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Uang Puluhan Miliar Berputar di Rumah Judi Tiap Laga Liga 1

Senin 17 Des 2018 21:02 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Israr Itah

Joko Driyono

Joko Driyono

Foto: Antara/Wahyu Putro A
Jika dirupiahkan, uang yang bergulir bisa mencapai Rp 70 miliar.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Wakil Ketua PSSI Joko Driyono meminta masyarakat tidak berpikiran negatif terkait perputaran uang di rumah judi pada setiap laga Liga 1 Indonesia. Menurutnya, semakin besar uang yang berputar di rumah judi pada setiap laga, berarti semakin tinggi kepercayaan masyarakat dunia terhadap liga yang bergulir.

"Jadi kita jangan terlalu negatif dulu dengan judi. Semakin besar nilai itu, semakin tinggi kepercayaan di dunia ini bahwa sepak bolanya tidak diatur (mafia)" kata Joko dalam gelaran diskusi sepak bola nasional bertema #PSSIHarusBaik di Graha Pena Surabaya, Senin (17/12).

Joko mengungkapkan, pada setiap laga Liga 1 yang digulirkan, uang yang berputar di rumah judi rata-rata sebesar 5,7 juta dolar AS. Jika dirupiahkan, uang yang bergulir bisa mencapai Rp 70 miliar.

"Jangan terlalu negatif karena pada saat nilainya menurun, dan orang tidak ada yang bertaruh di rumah judi, itu sepak bola tidak bisa dipercaya," ujar Joko.

Terkait adanya peran mafia pada setiap laga Liga 1, Joko mengakui pihaknya  punya kewenangan terbatas. PSSI, kata dia, tidak bisa mengambil tindakan terkait adanya mafia yang melakukan pengaturan skor (match fixing) pada persepakbolaan Indonesia.

Salah satu nama yang menyeruak adalah Vigit Waluyo. Menurut Joko, itu tak lain karena PSSI tidak memiliki kewenangan hingga ke tahap investigasi.

Joko menjelaskan, tidak bisa masuknya PSSI untuk menangani mafia sepak bola, karena pengaturan skor banyak yang melibatkan pihak di luar football family. Menurutnya, untuk menangani pelaku pengaturan skor di luar football family, perlu melibatkan negara, yakni kepolisian.

"Oleh karenanya PSSI dalam periode dua tahun ke depan harus melakukan sinergi. Dalam konteks ini, sinergi yang paling realistis adalah dengan negara, instrumen kepolisian," ujar Joko.

Terkait inisiatif tersebut, lanjut Joko, PSSI pada 7 Desember 2018, sudah membentuk komite Ad hoc. Salah satu produknya adalah pada Januari 2019 akan menggelar pertemuan segi tiga antara PSSI, FIFA, dan Interpol yang diwakili kepolisian, untuk mengatasi mafia sepak bola Tanah Air.

"Jadi nantinya ada dua yurisdiksi. PSSI ke ranah football family, dan yang ada di luar itu bisa ditangani humkum positif," kata Joko.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA