Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Seperti Apa Persaingan Basket Indonesia Saat Ini?

Selasa 15 Jan 2019 07:39 WIB

Rep: Fitriyanto/ Red: Gilang Akbar Prambadi

Pertandingan perdana IBL Pertamax Seri ketiga, Kamis (10/1) di Sritex Arena, Solo Jawa Tengah. Pelita Jaya Jakarta menang 70-63 atas Hang Tuah.

Pertandingan perdana IBL Pertamax Seri ketiga, Kamis (10/1) di Sritex Arena, Solo Jawa Tengah. Pelita Jaya Jakarta menang 70-63 atas Hang Tuah.

Foto: dok. IBL
IBL diyakini semakin kompetitif dari tahun-tahun sebelumnya.

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Kompetisi basket tertinggi di Indonesia (IBL) Pertamax 2018/2019 dinilai semakin menunjukkan peningkatan dari segi persaingan. Direktur IBL Hasan Gozali mengatakan, sejauh ini, perhelatan IBL 2018/2019 yang sudah separuh jalan menunjukkan kesuksesan. Empat dari total delapan seri sudah dilalui. Sejak Seri I di Semarang lalu hingga Seri IV yang rampung di Solo akhir pekan kemarin, sejumlah kejutan selalu mewarnai.

Saat liga basket tertinggi di Tanah Air ini belum digelar, tidak ada yang menduga dua tim finalis bakal mencetak hasil buruk. Satria Muda (SM) Pertamina dan Pelita Jaya Jakarta yang musim lalu begitu digdaya, kali ini sudah menelan empat kekalahan dari delapan laga yang dimainkan.

"Sama sekali tidak menduga akan seperti ini hasilnya. Tim finalis bisa kalah empat kali. Bahkan di Solo ini dari tiga laga mereka kalah dua kali. Kami juga tidak menduga NSH sangat baik improve-nya," ujar Hasan ketika berbincang dengan Republika di Solo, Jawa Tengah, kemarin.

Hasan mengatakan, bergulirnya persaingan IBL hingga seri keempat sangatlah seru. Menurut dia, banyak pertandingan yang sulit diprediksi hasil akhirnya. Kini tim papan bawah dan menengah sudah mampu menunjukkan taji. Itu dibuktikan dengan kemampuan mereka mengalahkan tim-tim mapan papan atas Indonesia.

Hasan menilai adanya keseimbangan dalam persaingan di IBL musim ini tak lepas dari kehadiran legiun asing berkualitas. "Pemain-pemain asing tahun ini lumayan membantu tim yang pemain lokalnya kurang. Sebagai contoh NSH Jakarta yang hingga saat ini masih kokoh di puncak klasemen Divisi Merah dengan tujuh kemenangan dari sepuluh laga," kata dia.

photo
Pertandingan Stapac Jakarta melawan NSH Jakarta. Dalam lanjutan IBL Pertamax Seri IV Solo, Jumat (11/1) di Sritex Arena Solo, Jawa Tengah, Stapac menang 75-50. (IBL)



Sampai seri keempat, cuma Stapac Jakarta tim mapan yang masih menunjukkan konsistensi  dengan baru menderita satu kali kekalahan. Satu-satunya kekalahan Stapac terjadi pada Seri I Semarang. Kekalahan tersebut juga menjadi kejutan karena Stapac tersungkur di tangan Bogor Siliwangi. Kala itu Stapac tidak diperkuat tiga pemain intinya yang harus membel timnas Indonesia, yakni Agassi Goantara, Abraham Damar Grahita, dan Kaleb Ramot Gemilang.

Hasan menilai peran pelatih asal Lithuania, Giedrius Zibenas, membawa dampak yang besar bagi penampilan Stapac. "Luar biasa Stapac, sejak dipegang Zibenas, improve pemainnya juga luar biasa. Agassi dan Widyantaputra Teja tahun ini tampil luar biasa," ujar dia.

Namun, Hasan yakin dua tim langganan final, SM dan Pelita Jaya akan segera menemukan jalur kebangkitan. Hasan menilai SM dan Pelita Jaya sudah terbiasa dengan tekanan. "Dengan kualitas pemain yang mereka miliki, saya rasa mereka tidak akan panik. Masih ada waktu untuk bangkit," jelasnya.

Pelatih NSH Jakarta Wahyu Hidayat Jati mengakui adanya keseimbangan kompetisi yang sangat baik di IBL musikm ini. Menurut sosok yang akrab disapa Coach Cacing ini, banyak faktor yang membuat tim-tim papan tengah dan bawah bisa menggoyang dominasi klub-klub mapan di masing-masing klasemen.

Wahyu mengatakan, untuk timnya, keberhasilan memuncakai klasemen Divisi Merah tak lepas dari idealnya waktu persiapan. Menurut Wahyu, sejak musim lalu selesai, NSH langsung bergerak dengan membangun tim.

Fase pencarian pemain pun berjalan tanpa terburu-buru. Selain mendapatkan dua pemain asing yang mumpuni, Anthony Simpson dan Deshaun Wiggins, NSH juga berjuang keras untuk meningkatkan performa pemain lokalnya. Dua perpaduan tersebut, kata Wahyu, sejauh ini sudah menunjukan hasil positif.

Wahyu menjelaskan, kehadiran para pemain asing berkualitas, turut membuat penggawa-penggawa lokal terkatrol kemampuannya. Pemain lokal NSH, Muhammad Irman dan Andre Rorimpandey sudah menunjukkan peningkatan pesat dibandingkan musim lalu. Peningkatan ini tak lepas dari usaha keras tim pelatih untuk menggenjot fisik keduanya sebelum kompetisi dimulai.

"Musim ini kami memang memiliki waktu lebih banyak untuk melakukan persiapan. Kami juga memberikan batas minimal kebugaran stamina, melalui test VO2MAX. Standar VO2MAX terendah yang harus dicapai adalah 50. Jika stamina sudah bagus, pemain akan lebih mudah meningkatkan skill dan knowledge basket mereka," ujar Wahyu, Senin.

Dengan performa yang sejauh ini sangat gemilang, Wahyu yakin timnya bisa bicara banyak. Namun, mantan pemain timnas Garuda ini masih enggan bicara soal gelar juara. "Target awal kami 11 kemenangan terlebih dahulu. Kami belum berani bicara gelar juara. Terpenting kami amankan lolos play-off secepatnya," kata dia.

Menurut Wahyu, tak sedikit yang masih harus timnya benahi. Dia mengatakan, tiga kekalahan yang diderita timnya musim ini membuktikan ada banyak lubang yang perlu segera ditambal. "Dari segi permainan kami harus menekan jumlah turn over yang tercipta setiap laga. Maksimal dalam satu gim 14 kali turn over. Kami pernah dalam satu gim hanya tujuh kali turn over, yakni saat mengalahkan SM Pertamina," jelasnya.


Wahyu juga menilai jumlah rebound yang diraih timnya masih sangat kurang. "Target kami setiap laga 40 rebound, ini dapat tercapai jika pemain agresif baik bertahan maupun menyerang," kata dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA