Wednesday, 27 Jumadil Awwal 1441 / 22 January 2020

Wednesday, 27 Jumadil Awwal 1441 / 22 January 2020

Asprov PSSI Papua Nilai Edy Rahmayadi Bersikap Ksatria

Ahad 20 Jan 2019 20:35 WIB

Red: Andri Saubani

Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi (kiri) menyampaikan pidatonya dalam pembukaan Kongres PSSI 2019 di Nusa Dua, Bali, Ahad (20/1/2019).

Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi (kiri) menyampaikan pidatonya dalam pembukaan Kongres PSSI 2019 di Nusa Dua, Bali, Ahad (20/1/2019).

Foto: Antara/Nyoman Budhiana
Edy Rahmayadi hari ini menyatakan mundur dari jabatan Ketua Umum PSSI.

REPUBLIKA.CO.ID, JAYAPURA -- Wakil ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Papua Rocky Bebena menilai pengunduran diri Edy Ramayadi dari jabatan Ketua Umum PSSI menunjukkan sikap seorang satria dan sportif. Edy hari ini menyatakan mundur lewat forum Kongres Tahunan PSSI di Bali.

"Itu sebuah sikap ksatria dari beliau dan sangat baik untuk kepentingan PSSI yang lebih besar," kata Rocky, Ahad (20/1) malam.

Dia berharap, dengan pengunduran diri Edy Ramayadi dari jabatan Ketua Umum PSSI, sepak bola di Tanah Air bisa lebih maju dan berkembang, yang tentunya harus ditunjukkan dan dibuktikan oleh penerusnya. "Harus lebih baik dan sesuai statuta maka anggota Exco yang tertua (Waketum) naik jadi pelaksana tugas ketua," katanya.

Mengenai penunjukkan Joko Driyono (Jokdri) sebagai Plt Ketua Umum PSSI, Rocky mengaku sependapat. "Kita hanya merujuk pada statuta. Jika ketua mundur, maka wakilnya yang akan melanjutkan," katanya.

Mengenai wacana KLB PSSI, sekretaris umum (Sekum) tim Persipura Jayapura itu mengaku belum sependapat. Alasannya, pada tahun ini ada agenda nasional, yakni pemilu yang bisa menyita perhatian dan waktu.

"Jika gelar KLB, saya rasa tidak tepat waktu karena ada agenda nasional yang lebih besar pada tahun ini, sudah pastinya akan menguras tenaga, perhatian dan waktu. Saya kira harus dipertimbangkan secara matang," kata Rocky.

Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi menegaskan, keputusannya untuk mundur dari jabatan ketua umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) adalah keputusan terbaik yang terbaik untuk bangsa Indonesia. "Tidak ada yang menekan saya untuk mundur. Ini adalah keputusan yang terbaik untuk bangsa," ujar Edy usai menyampaikan pidato pengunduran dirinya dalam kongres tahunan PSSI di kawasan Nusa Dua, Badung, Bali, Ahad.

Menurut mantan Pangkostrad itu, memimpin PSSI menjadi tantangan paling sulit yang dihadapi dalam hidupnya. Dia mengakui dalam beberapa hal dirinya gagal membawa PSSI menjadi lebih baik sejak memimpin pada 2016.

"Sudah dilarang mengatur skor, terjadi pengaturan skor. Ada perkelahian juga. Itu kan berarti saya gagal. Jangan sampai karena satu atau dua orang PSSI terganggu. Mari kita doakan pemimpin berikutnya lebih jaya," tutur Edy.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA