Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Untung ada Piala Presiden

Kamis 04 Apr 2019 09:35 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Gilang Akbar Prambadi

Suporter Persebaya Surabaya mengheningkan cipta dengan membentangkan spanduk bergambar Eri Irianto saat pertandingan semifinal Piala Presiden 2019 leg pertama antara Persebaya Surabaya melawan Madura United di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (3/4/2019).

Suporter Persebaya Surabaya mengheningkan cipta dengan membentangkan spanduk bergambar Eri Irianto saat pertandingan semifinal Piala Presiden 2019 leg pertama antara Persebaya Surabaya melawan Madura United di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (3/4/2019).

Foto: Antara/Moch Asim
Kehadiran Piala Presiden 2019 menjadi pemuas dahaga para suporter.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Kehadiran turnamen pramusim Piala Presiden 2019 menjadi andalan para pencinta sepak bola Tanah Air dalam mengobati rindu tontonan bal-balan. Laga Persebaya Surabaya vs Madura United pada Rabu (3/4) menjadi salah satu bukti betapa suporter ingin datang ke stadion dan menyaksikan pertandingan sepak bola.

 

Sebelum laga semifinal leg pertama yang dimenangkan Persebaya dengan skor tipis 1-0 itu digelar, teriakan dan yel-yel dukungan sudah digemakan Bonek, pendukung setia Persebaya. Bahkan, jauh sebelum pertandingan dimulai.

Di jalan-jalan, di luar, dan di dalam stadion, gemuruh dukungan itu terus merangsek ke lubang telinga.

 

Saking intensnya yel-yel tersebut dinyanyikan, bisa jadi tanpa sadar otak pendengar secara otomatis merekamnya. Malah, bisa ikut menyanyikan yel-yel tersebut.

 

Pemandangan serupa, jelas bukan saja ada di Kota Pahlawan, tapi juga di kota-kota lain di Indonesia. Itu tak lain karena hampir seluruh klub di Liga Indonesia memiliki pendukung yang superfanatik. 

 

Tak ada yang bisa menyangkal, fanatisme di sepak bola Indonesia sudah membatu karang. Sehingga, kapan dan di manapun klub kesayangannya bertanding, pendukung superfanatik tadi selalu siap memberikan dukungan.

 

Tak peduli pertandingan yang dijalani hanya persahabatan, pramusim, ataupun kompetisi resmi. Seperti pertandingan Piala Presiden yang sejatinya dirancang sebagai turnamen pramusim. Agar pelatih mampu menyusun batu bata fondasi klub yang ditukanginya, demi mengarungi musim kempetisi yang sesungguhnya, yakni Liga 1 Indonesia.

 

"Ya memang cuma pramusim, tapi kan kita selalu kepingin menyaksikan Persebaya bertanding. Liga kan masih lama, ya ini ada Piala Presiden, ya kan bisa sebagai pengobat rindu, sambil mengikuti perkembangan sebelum liga," ujar salah seorang pendukung, Rudi Purwanto (34), kepada Republika di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Rabu (3/4).

 

Antusiasme Bonek yang ingin menyaksikan pertandingan dua klub asal Jawa Timur itu memang sangat tinggi. Tingginya antusiasme itu tergambar dari ludesnya tiket yang dicetak panitia, yang jumlahnya mencapai 50 ribu. Jumlah tersebut sekaligus memecahkan rekor penonton Piala Presiden 2019, setidaknya hingga semifinal digulirkan.

 

"Jangankan ini, turnamen bergengsi yang pesertanya juga klub-klub papan atas Indonesia. Tarkam pun kalau misalkan gak ada lagi turnamen dan Persebaya ikut Tarkam, ya kita pasti beri dukungan," kata Rudi.

 

Ungkapan Rudi itu pun diamini pendukung Persebaya lainnya, Hadi (29). Warga asli Surabaya ini pun merasa digelarnya Piala Presiden 2019, menjadi obat penawar rindu untuk menyaksikan klub kesayangannya berlaga, meskipun Liga 1 Indonesia tengah libur. Hadi juga menganggap, dukungan kepada the Green Force merupakan suatu keharusan, meskipun laga yang digulirkan hanya turnamen pramusim.

"Apalagi ini, main di kandang, tanggal merah pula, terus lawan yang dihadapi juga termasuk klub papan atas, ya kita wajiblah beri dukungan. Kalau gak bisa datang ke stadion ya minimal nonton di rumah lah, sambil berdoa supaya Persebaya menang, dan jadi juara," ujar Hadi.

 

Hadi pun berharap turnamen yang sudah digelar sejak 2015 itu bisa terus digulirkan pada tahun-tahun berikutnya. Dia menilai, turnamen pramusim semacam itu perlu terus berjalan. Selain sebagai pengobat rindu saat kompetisi resmi libur, juga sebagai persiapan bagi setiap klub, dalam rangka melakukan seleksi pemain-pemain yang baru didatangkannya.

 

"Ya bursa transfer pemain kan belum ditutup tuh. Lewat pramusim semacam ini, klub jadinya bisa tahu di mana kelemahannya, pemain posisi apa yang harus ditambah, sehingga lebih siap menghadapi liga. Ya mudah-mudahan bisa terus jalan (Piala Presiden)," kata Hadi.

 

Pelatih Persebaya Djajang Nurjaman (Djanur) paham betul dengan antusiasme yang ditunjukkan Bonek. Untuk itulah, Djanur bertekad untuk memberikan persembahan terbaik agar dahaga para pendukung setia Bajul Ijo makin terpuaskan. "Saya berharap bisa mengulangi prestasi ketika menjadi juara Piala Presiden bersama Persib, selain untuk saya pribadi juga untuk Persebaya. Tapi jangan sampai lupa bahwa lawan-lawan yang dihadapi sangat tangguh," kata Djanur.

 

Hiburan rakyat

 

Anggota Steering Committee (SC) Piala Presiden 2019 Cahyadi Wanda menegaskan, sesuai instruksi Presiden Joko Widodo, gelaran turnamen pramusim ini memang diharapkan menjadi sarana hiburan rakyat. Jika melihat antusiasme penonton di setiap pertandingan yang digulirkan, bisa diartikan harapan tersebut sudah diraih. Artinya, rakyat Indonesia benar-benar terhibur dengan digelarnya Piala Presiden 2019.

photo
Salah satu suporter Aremania mengenakan kostum unik khas Singa pada laga pertandingan perempat final Piala Presiden 2019 Bhayangkara FC melawan Arema FC, di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (30/3/2019).

"Kan memang sejak awal digelar pada 2015, Piala Presiden ini memang tetap diharapkan menjadi hiburan rakyat. Tentunya selain sebagai persiapan klub-klub menjelang digulirkannya Liga Indonesia," kata Cahyadi saat menggelar konferensi pers di Surabaya, Selasa (2/4).

 

Cahyadi menambahkan, sejak awal diselenggaran, hingga saat ini, Piala Presiden merupakan turnamen yang digelar dengan penuh transparansi. Transparansi yang dimaksud baik dari segi keuangan, maupun penyelenggaran, semuanya tidak ada yang ditutup-tutupi. Dia juga berharap budaya tersebut bisa diaplikasikan dalam gelaran sepak bola Indonesia ke depannya.

 

"Nanti juga ada audit secara terbuka yang publik bisa mengetahui. Ini adalah budaya yang kami harapkan di sepak bola Indonesia ke depannya dapat terus dilanjutkan," ujar Cahyadi.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA