Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Musim Terburuk Real Madrid pada Abad 21

Rabu 15 May 2019 06:17 WIB

Rep: Frederikus Bata/ Red: Citra Listya Rini

Skuat Real Madrid.

Skuat Real Madrid.

Foto: AP Photo/Paul White
Zidane pun tak mampu menyelamatkan Real Madrid musim ini.

REPUBLIKA.CO.ID, MADRID -- Real Madrid benar-benar tak berdaya. Sepanjang musim 2018/2019, klub raksasa Spanyol itu hanya menjadi penonton para rivalnya berpesta di La Liga dan Liga Champions.

Sebuah momen pembelajaran dialami Sergio Ramos cs. El Real yang disebut-sebut sebagai klub terbesar dunia, sempoyongan. Itulah drama lapangan hijau yang selalu menghadirkan episode tak terduga.

Keterpurukkan Real Madrid sudah terjadi beberapa bulan semenjak tim tersebut mempertahankan trofi Liga Champions tiga musim beruntun. Saat itu, Los Blancos dilatih Julen Lopetegui. Masa tugas Lopetegui di Santiago Bernabeu hanya sampai akhir Oktober 2018.

Manajemen Real Madrid memecat yang bersangkutan. Eks arsitek tim nasional Spanyol itu hanya mengawal Los Merengues dalam 14 pertandingan di berbagai kompetisi. Sejauh itu, Karim Benzema cs meraih enam kemenangan, enam kekalahan, dan dua imbang.

Puncaknya ketika Reak Madrid tak berdaya di El Clasico jilid satu musim 2018/2019. Itu terjadi pada ajang La Liga. Bertandang ke Camp Nou, markas Barcelona, Ahad (28/10) dini hari WIB, El Real kalah 1-5.

Sejumlah nama sempat diisukan menjadi pengganti Lopetegui. Salah satunya Antonio Conte. Kebetulan eks pelatih Chelsea itu sedang nganggur. Pada akhirnya manajemen Real Madrid memilih Santiago Solari. Latar belakang Solari  sebagai arsitek tim yunior Real Madrid. Pria Argentina itu naik kelas.

photo
Santiago Solari

Di bawah komando Solari, Real Madrid menunjukkan perbaikan signifikan. Dalam empat laga perdana sang mentor, El Real meraih 100 persen kemenangan. Pujian pun berdatangan pada sosok yang saat aktif jadi pemain, pernah membela Los Blancos itu.

"Dia memberi ketenangan dan kepercayaan diri. Itu yang paling penting bagi kami saat ini," kata gelandang serang Real Madrid, Marco Asensio, dikutip dari Marca, beberapa waktu lalu.

Pekan demi pekan berganti, Solari mulai menghadapi sejumlah persoalan. Entrenador berusia 42 tahun itu lebih sering diberitakan cekcok dengan para pemain andalan. Salah satunya Isco yang kerap menghuni bangku cadangan. Kemudian Marcelo. 

Berbagai dinamika, membuat takhta Solari mulai goyang. Kursi kepelatihannya terancam dicopot. Bersamaan dengan itu Real Madrid kian akrab dengan hasil negatif. Pada akhir Februari hingga awal Maret 2019, Madrid gagal total. El Real disingkirkan Ajax Amsterdam dari ajang Liga Champions. Kemudian dalam sepekan, si putih mengalami sepasang kekalahan dari Barca.

Semua kekalahan tersebut terjadi di Santiago Bernabeu. Satu lagi, Real Madrid juga gagal ke final Copa del Rey. Walhasil nasib Solari di ujung tanduk. Selepas rentetan keterpurukkan tersebut, Solari sempat memimpin Real Madrid menghadapi Real Valladolid pada ajang La Liga. Pascakemenangan 4-1 yang diraih El Real, rumor pemecatan sang juru taktik mencuat.

Pada pertengahan Maret 2019, manajemen Real Madrid memecat Solari. Dalam situasi genting, Presiden klub Florentino Perez kembali menghubungi Zinedine Zidane. Zidane dianggap bakal menyelamtkan Los Blancos dari kehancuran. 

photo
Zinedine Zidane

Sebagai pemain, Zizou salah satu legenda hidup El Real. Sebagai pelatih, pria Prancis itu mempersembahkan sejumlah gelar utama, termasuk trofi Liga Champions, tiga musim beruntun. Dengan semua statistik tersebut, pantas saja jika Perez berharap banyak pada mantan gelandang Juventus itu.

Kembali dari masa nganggur, Zidane resmi menjadi suksesor Solari. Ia datang dalam keadaan Real Madrid tak memiliki target meraih trofi apa pun. Sehingga eks kapten Les Bleus berkomitmen menyusun rencana strategis untuk musim depan yang lebih baik.

Tentu saja ia berusaha keras mempersembahkan kemenangan. Akan tetapi seorang Zidane pun tak mampu mengangkat moral Toni Kroos cs. Teranyar pada pekan ke-37 La Liga, Real Madrid kembali terjerembab. 

Hasil pertandingan tersebut menandai kian terpuruknya Real Madrid. Sejauh musim 2018/2019, Los Blancos mengalami 17 kekalahan di berbagai kompetisi. Bahkan jarak poin El Real dengan Barcelona melebar hingga 18 angka pada ajang Liga Spanyol. Ini situasi terburuk Real Madrid sepanjang abad 21. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA