Tuesday, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Tuesday, 18 Muharram 1441 / 17 September 2019

Mochizuki Cetak Sejarah Baru Tenis Jepang di Grand Slam

Senin 15 Jul 2019 07:03 WIB

Red: Israr Itah

Shintaro Mochizuki

Shintaro Mochizuki

Foto: AP Photo/Kirsty Wigglesworth
Petenis Jepang pertama yang memenangi gelar tunggal putra junior grand slam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Shintaro Mochizuki membuat sejarah sebagai petenis Jepang pertama yang memenangi gelar tunggal putra junior grand slam. Ia mengalahkan Carlos Gimeno Valero dari Spanyol 6-3, 6-2 pada final Grand Slam Wimbledon, Ahad (14/7). Petenis berusia 16 tahun itu mengikuti jejak Kazuko Sawamatsu, petenis Jepang yang menjadi juara tunggal putri junior Wimbledon pada 1969. 

Mochizuki mengatakan, ia telah belajar banyak dari rekan senegaranya, finalis US Open 2014 Kei Nishikori. "Dia sangat baik. Ia memberi saya banyak saran. "Seperti kadang-kadang saya berlatih bersama dia. Saya belajar banyak dari dia. Yeah, ia cerdas," kata Mochizuki.

Baca Juga

Nishikori, sembilan kali perempat finalis Grand Slam, segera memberi selamat rekan senegaranya via Twitter.

"Selamat kepada @ShintaroMOCHIZU! Turnamen yang luar biasa," cicit bintang asal Jepang itu, menambahkan ikon jempol, ikon lengan ditekuk serta beberapa bendera.

Walaupun berterima kasih kepada Nishikori, Mochizuki punya idola lain. Ia mengagumi Roger Federer dan mengaku sering menyaksikannya di televisi. "Saya tidak ingin meniry dia, tapi saya suka menyaksikan dia."

Mochizuki mengatakan ia sangat sadar terhadap kekalahannya di French Open ketika memimpin 5-2 pada semifinal namun kemudian kalah.

Ia mengatakan, momen pentingnya adalah ketika ia unggul satu set namun dipatahkan servisnya pada awal set kedua dan berhasil bertahan.

"Ia memperoleh beberapa break point, tapi saya hanya mengusahakan yang terbaik untuk mempertahankan service game saya. Ya, ini pertandingan yang sangat penting bagi saya," kata dia.

Mochizuki mengakui belum terbiasa bermain di depan begitu banyak orang di Lapangan Satu telah membuatnya enggan tampil di hadapan mereka.

"Saya malu, sehingga ini seperti, mengapa saya harus melakukannya?," katanya.

"Tetapi itu menyenangkan. Begitu banyak orang di sana. Saya agak gugup."

Akan tetapi, begitu berada di lapangan ia malah menikmati bermain-main dengan penontonnya, dengan satu smes lompat menjadi hiburan spesial bagi penonton.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA