Senin, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 Desember 2019

Senin, 19 Rabiul Akhir 1441 / 16 Desember 2019

Djokovic Sebut Final Wimbledon 2019 Paling Menyita Mental

Senin 15 Jul 2019 14:39 WIB

Red: Israr Itah

Novak Djokovic

Novak Djokovic

Foto: EPA-EFE/NIC BOTHMA
Djokovic memenangkan kejuaraan Wimbledon kelimanya dengan mengalahkan Federer.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Novak Djokovic telah bertanding dalam beberapa pertandingan paling berkesan dan menantang dalam sejarah Era Open. Termasuk di antaranya final Australia Open 2012 ketika ia mengalahkan Rafael Nadal dalam pertandingan final Grand Slam terpanjang dalam sejarah, yaitu lima jam 53 menit.

Baca Juga

Namun, tidak ada pertandingan yang lebih banyak menyita kekuatan mental Djokovic daripada final Wimbledon 2019 melawan Roger Federer yang berakhir Senin (15/7) dini hari WIB.

"Itu mungkin pertandingan yang paling berat dan paling menuntut secara mental yang pernah saya ikuti. Saya menjalani pertandingan paling berat secara fisik melawan Nadal di final Australia yang berlangsung hampir enam jam. Tetapi secara mental ini adalah tingkat yang berbeda," kata Djokovic saat diwawancari atptour.com, Senin.

Petenis Serbia itu menyelamatkan diri dari dua kali match point Federer. Djokovic memenangkan kejuaraan Wimbledon kelimanya dengan mengalahkan Federer 7-6(5), 1-6, 7-6(4), 4-6, 13-12(3) dalam waktu empat jam 57 menit. Ini menjadi final tunggal putra terpanjang dalam sejarah Wimbledon (sejak 1877), atau sembilan menit lebih lama dari final 2008 antara Nadal dan Federer.

"Aku jelas sangat senang berada di sini sebagai pemenang. Padahal butuh satu pukulan lagi sehingga saya bisa kalah. Tapi pertandingan ini punya segalanya, bisa saja ini jadi (kemenangan) miliknya," kata Djokovic.

Djokovic telah memenangkan empat dari lima kejuaraan besar terakhir. Ia kini hanya selisih dua gelar Grand Slam dari Rafael Nadal (18) dan empat dari Federer (20).

Ia pun mengakui bahwa konstestasi mereka bertiga sebagai tiga besar turut andil dalam dorongannya untuk terus berkembang.

"Kami membuat tumbuh dan berkembang satu sama lain. Kedua orang itu mungkin salah satu alasan terbesar saya masih bersaing di tingkat ini. Fakta bahwa mereka membuat sejarah di olahraga ini ikut memotivasi saya juga, menginspirasi saya untuk mencoba melakukan apa yang telah mereka lakukan, apa yang telah mereka capai, dan bahkan mencoba melampauinya," katanya.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA