Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Monday, 17 Muharram 1441 / 16 September 2019

Cisse dan Mimpi Buruk di Piala Afrika 2019

Sabtu 20 Jul 2019 16:25 WIB

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Yudha Manggala P Putra

Pelatih Senegal Aliou Cisse.

Pelatih Senegal Aliou Cisse.

Foto: EPA
Dua kali tampil di final Piala Afrika, Cisse belum berhasil menggenggam trofi.

REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Pada awal Februari 2002 di Stadion 26 Mars, Bamako, Mali, Aliou Cisse menghadapi bola dan berhadapan langsung dengan kiper Kamerun, Alioum Boukar. Sebagai kapten tim Senegal, Cisse, yang saat itu masih berusia 26 tahun, dipercaya sebagai algojo terakhir Senegal di babak adu penalti final Piala Afrika 2002.

Baca Juga

Kegagalan kedua tim mencetak gol selama 90 menit, ditambah babak perpanjangan waktu, membuat juara Piala Afrika edisi ke-23 itu mesti ditentukan lewat drama adu penalti. Sayangnya, Cisse gagal melakukan tugasnya dengan baik. Boukar mampu menghalau bola hasil tendangan keras Cisse.

Eks gelandang Paris Saint Germain itu menjadi pemain Senegal ketiga yang gagal merobek gawang Kamerun, setelah kegagalan El Hadji Diouf dan Amdy Faye. Tim berjuluk Singa Teranga itu akhirnya menyerah 2-3 dari Kamerun di babak adu penalti dan mesti kembali memendam mimpi untuk membawa pulang trofi Piala Afrika untuk pertama kalinya ke negara yang terletak di kawasan Afrika Barat tersebut.

Padahal, pada saat itu, Senegal dianggap tengah memiliki generasi terbaik di kancah sepak bola. Nama-nama seperti El Hadji Diouf, Papa Bouba Diop, dan Henri Camara, merupakan representasi dari kekuatan Senegal. Kekuatan yang akhirnya terbukti saat Senegal berhasil mempermalukan juara bertahan, Prancis, di laga pembuka Piala Dunia 2002, dan kemudian sukses melaju hingga babak perempat final Piala Dunia 2002.

Kendati begitu, kekecewaan di partai final Piala Afrika 2002, empat bulan sebelumnya, masih terus menggelayut. Akhirnya, kesempatan untuk membayar kekecewaan di Bamako itu pun datang 17 tahun kemudian. Senegal berhasil melaju ke babak final Piala Afrika 2019, dan tinggal berhadapan dengan Aljazair di Stadion Internasional, Kairo, Mesi, Sabtu (19/7) waktu setempat.

Kebobolan saat laga baru berjalan dua menit lewat torehan Baghdad Bounedjah, Senegal berupaya membalas. Total 12 tembakan, dan tiga tepat mengarah ke gawang, masih belum bisa membawa Sadio Mane dan kawan-kawan merobek gawang Aljazair. Mengendalikan permainan lewat penguasaan bola mencapai 62 persen di sepanjang laga juga tidak membuat Senegal sukses menyamakan kedudukan.

Laga itu berakhir tragis buat Senegal. Alih-alih membayar kekecewaan 17 tahun silam, Tim Singa Teranga justru merasakan kembali memperpanjang rasa kecewa. Senegal kembali harus gigit jari saat tinggal selangkah lagi menuju tangga juara Piala Afrika, gelar yang tidak pernah diraih Senegal sejak pertama kali ikut berpartisipasi pada 1965 sebagai sebuah negara merdeka.

Sosok yang bisa dibilang paling kecewa dengan kegagalan ini adalah sang pelatih, Aliou Cisse. Eks gelandang Birmingham City itu pun ingat betul bagaimana kekecewaan dan mimpi buruk yang mesti dipendamnya selama 17 tahun terakhir. ''Selama 17 tahun terakhir sejak kami menginjakan kaki di fase yang sama di turnamen ini. Selama itu, kami hanya mengingat kekecewaan dan ilusi belaka,'' ujar Cisse seperti dikutip Supersports, akhir pekan ini.

Dari dua kali kesempatan tampil di final Piala Afrika, pertama sebagai pemain kedua sebagai pelatih, Cisse belum pernah sekalipun menggenggam trofi dari kompetisi sepak bola paling bergengsi antar negara-negara di Benua Afrika tersebut. Sebagai pelatih, perjuangan selama lima tahun terakhir yang dilakukan Cisse dalam membangun tim Senegal akhirnya berujung dengan kekecewaan.

Namun, pelatih berusia 46 tahun itu tidak putus harapan. Sempat menyebut tim Senegal saat ini jauh lebih baik dibanding saat dia masih menjadi pemain, Cisse optimis dengan kiprah selanjutnya yang akan ditorehkan Sadio Mane dan kawan-kawan. Satu hal yang hilang dari timnya, kata Cisse, adalah menjaga konsistensi untuk bisa tampil di laga-laga besar, seperti laga final.

''Sekarang, kami ingin lebih sering berada dan tampil di fase puncak seperti ini dan terus mendekat dengan kemenangan. Tim ini telah mengalami kemajuan pesat dalam lima tahun terakhir. Hasil di laga itu (kontra Aljazair) ditentukan oleh perbedaan kecil, dan seharusnya kami bisa mendapatkan hasil yang lebih baik,'' ujar Cisse.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA