Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

PBSI Harus Evaluasi Program Latihan

Selasa 23 Jul 2019 06:12 WIB

Rep: Rahmat Fajar/ Red: Israr Itah

Ganda putra Indonesia Marcus Fernaldi Gideon (kiri) dan Kevin Sanjaya Sukamuljo berada di atas podium setelah bertanding mengalahkan ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan pada final Blibli Indonesia Open 2019 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Ahad (21/7).

Ganda putra Indonesia Marcus Fernaldi Gideon (kiri) dan Kevin Sanjaya Sukamuljo berada di atas podium setelah bertanding mengalahkan ganda putra Indonesia Mohammad Ahsan dan Hendra Setiawan pada final Blibli Indonesia Open 2019 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Ahad (21/7).

Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Indonesia hanya mendapatkan satu gelar pada ajang Indonesia Open 2019.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia hanya mendapatkan satu gelar pada ajang Indonesia Open 2019 dari nomor ganda putra melalui Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. Jumlah gelar ini menurun jika dibandingkan pada 2018 di mana Indonesia menyabet dua gelar yaitu ganda putra dan ganda campuran.

Baca Juga

Legenda bulu tangkis Indonesia Christian Hadinata menyarankan kepada tim pelatih, khususnya di luar nomor ganda putra, untuk mengevaluasi kembali program latihan. Hal tersebut berkaca kepada hasil atlet Indonesia di ajang Indonesia Open secara keseluruhan tidak berada dalam performa yang bagus.

“Artinya memang hasil maksimal masih tetap di ganda putra. Di empat nomor lainnya di luar atau belum mencapat target,” ujar Christian, ketika dihubungi Republika.co.id, Senin (22/7).

Christian menyayangkan nomor ganda campuran, ganda putri, dan tunggal putra banyak yang tidak mampu melewati delapan besar. Semestinya, kata dia, mereka mampu mencapai itu, apalagi tampil di publik sendiri.

photo
Pebulu tangkis tunggal putri Indonesia Gregoria Mariska Tunjung.

Namun, Christian memberikan toleransi terhadap nomor tunggal putri karena baru saja terjadi pergantian pelatih. Kendati demikian, penampilan Gregoria Mariska Tunjung saat melawan tunggal putri Thailand Ratchanok Intanon dinilai cukup bagus karena sempat menyulitkan pemain unggulan tersebut. Menurutnya, Gregoria hanya membutuhkan waktu yang lebih untuk bisa mencapai level yang tinggi.

Christian yang sewaktu aktif sebagai pemain adalah spesialis ganda putra dan campuran itu tidak mengetahui secara pasti apa faktor yang membuat hampir semua pemain di bawah performa yang bagus. Namun yang mesti dilakukan adalah mengevaluasi program latihan untuk menghadapi turnamen besar berikutnya.

“Kemarin penampilan anak-anak kita di nomor unggulan tidak dalam top performan yang diharapkan,” kata Christian menegaskan.

Atlet Indonesia mendapatkan waktu cukup lama sebelum turun di Indonesia Open 2019. Latihan mereka terus digenjot oleh masing-masing pelatih yang terpusat di Pelatnas Cipayung, Jakarta Timur. Dengan harapan, mereka memberikan penampilan dan hasil maksimal di turnamen level 1.000 ini.

Hasil yang tidak sebanding dengan persiapan panjang tersebut juga disoroti oleh Christian. Dia menegaskan, kunci ke depannya adalah ada di tangan pelatih dalam memberikan program yang tepat. Jika program tepat tersebut diberikan, kata dia, hasilnya akan dibutuhkan saat mereka tampil di turnamen besar.

photo
Pasangan ganda campuran Indonesia Praveen Jordan (kanan) dan Melati Daeva Oktavianti.

Atlet-atlet Indonesia banyak berguguran sejak babak pertama Indonesia Open. Ganda campuran Indonesia Praveen Jordan/Melati Daeva Oktaviani yang juga salah satu unggulan di turnamen ini tumbang di babak pertama. Dua ganda putra, Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting gagal melangkah hingga semifinal.

Ganda putri andalan Indonesia, Greysia Polli/Apriyani Rayahu yang gugur di babak 16 besar. Penampilan ganda putra Indonesia, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto juga menjadi sorotan setelah gugur di perempat final.
Sekretaris Jenderal  Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) sekaligus Ketua Pelaksana Indonesia Open 2019, Achmad Budiharto, Ahad (21/7) di Istora Senayan, Jakarta mengakui bahwa prestasi Indonesia tahun ini menurun. Dia mengatakan akan menjadi bahan evaluasi PBSI hasil dari turnamen ini.

photo
Ganda putra Indonesia Muhammad Rian Ardianto (kanan) dan Fajar Alfian.

Pelatih ganda putra Indonesia, Herry Iman Pierngadi juga tidak puas atas penampilan pasangan Fajar/Rian. Menurut Herry IP mereka bermain di bawah performa ketika dikalahkan pasangan Jepang di perempat final.

“Saya kurang puas dengan Fajar. Kemarin sudah ngobrol memberikan motivasi,” kata Herry IP, di Istora Senayan, Jakarta.

Pelatih berjuluk Naga Api itu menemukan banyak catatan yang mesti dievaluasi. Salah satu yang menjadi catatan Herry IP adalah permainan Fajar/Rian yang menoton hingga mudah terbaca lawan. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA