Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Kisah Barcelona Mini di Negeri Matahari Terbit

Senin 29 Jul 2019 15:01 WIB

Rep: Reja Irfa Widodo/ Red: Endro Yuwanto

Andres Iniesta (kanan) dan bos klub Vissel Kobe, Hiroshi Mikitani.

Andres Iniesta (kanan) dan bos klub Vissel Kobe, Hiroshi Mikitani.

Foto: Twitter Andres Iniesta
Vissel Kobe dinilai tengah berusaha mereplikasi kesuksesan Barcelona di Eropa.

REPUBLIKA.CO.ID, KOBE -- Pada dekade pertama milenium kedua, nama Vissel Kobe hanya dikenal sebagai satu dari belasan klub yang tampil di kompetisi utama Liga Jepang. Tidak ada prestasi mencolok yang bisa ditorehkan klub yang berasal dari salah satu kota pelabuhan tertua di Jepang tersebut.

Bahkan, pada akhir musim 2005, Vissel Kobe gagal bersaing di J1 dan harus rela terdegradasi ke J2, kompetisi kasta kedua Liga Jepang, pada musim berikutnya. Kiprah serupa dicatatkan Vissel Kobe pada 2013. Untuk kedua kalinya dalam rentang waktu satu dekade, klub berjuluk Ushi, atau bermakna sapi ini tampil di kompetisi J2.

Semuanya berubah pada Desember 2014. Sebuah perusahaan e-comerce dan internet asal Jepang, Rakuten, mengambil alih Vissel Kobe dari anak perusahannya, Crimson Group. Akuisisi ini diharapkan bisa meningkatkan level Vissel Kobe, baik torehan prestasi di atas lapangan maupun dari aspek keuntungan ekonomi dan finansial.

Rakuten terbukti tidak main-main dalam berinvestasi di kancah industri sepak bola. Dua tahun setelah mengakuisisi Vissel Kobe, Rakuten mencapai kesepakatan dengan Barcelona terkait sponsor utama global tim asal Katalan tersebut. Terhitung sejak 2017, Rakuten menggantikan maskapai penerbangan asal Qatar, Qatar Airways, sebagai sponsor utama Barcelona.

Alhasil, sejak saat itu hingga empat tahun berikutnya, logo Rakuten akan terus menempel di jersey Barcelona. Kerja sama antara Rakuten dengan Barcelona ini akhirnya membuka jalan buat sejumlah ''alumni'' La Blaugrana untuk memperkuat Vissel Kobe. Berada di bawah payung sponsor yang sama, pemain-pemain dari Barcelona bisa dengan begitu mudah hijrah ke Vissel Kobe.

Nama paling top tentu saja adalah kehadiran Andres Iniesta di skuat Vissel Kobe pada 2018. Pada usia 34 tahun dan 16 musim memperkuat Barcelona, Iniesta dikontrak selama tiga tahun oleh Vissel Kobe. Di klub barunya itu, gelandang berjuluk il Ilussionist itu bergabung bersama mantan gelandang serang Arsenal asal Jerman, Lukas Podolski, yang telah memperkuat Vissel Kobe sejak 2017.



photoJersey kandang baru Barcelona


Kehadiran mantan kapten Barcelona itu bisa dibilang menjadi awal dari eksodus alumni Barcelona ke Vissel Kobe. David Villa, yang pernah memperkuat Barcelona pada 2010-2013, mengikuti jejak Iniesta pada awal musim 2019. Kehadiran Villa berbarengan dengan perekrutan Sergi Samper, mantan gelandang Barcelona B dan lulusan akademi sepak bola Barcelona, La Masia.

Uniknya, berbeda dari Villa dan Iniesta, yang telah menginjak usia lebih dari 30 tahun, Samper didatangkan dari Barcelona kala baru berusia 24 tahun. Kegagalan bersaing di tim utama Barcelona membuat Samper akhirnya dilepas manajemen Blaugrana. Pasalnya, dua musim sebelum hijrah ke Vissel Kobe, Samper memang lebih banyak menjalani masa peminjaman, ke Granada dan Las Palmas, ketimbang tampil buat Barcelona.

''Kerjasama'' Barcelona dan Vissel Kobe pun terus berlanjut. Pada bursa transfer musim panas kali ini, Barcelona sepakat mengakhiri kontrak bek tengah asal Belgia, Thomas Vermaelen. Dapat ditebak, Vermaelen akhirnya berlabuh di Vissel Kobe. Bek tengah berusia 33 tahun itu menjadi pemain keempat Barcelona yang hijrah ke Vissel Kobe.

Vermaelen pun tidak menampik, permintaan dari CEO Rakuten, yang juga pemilik Vissel Kobe, Hiroshi Mikitani, menjadi salah satu alasan pilihannya untuk bergabung ke Vissel Kobe. ''Saya banyak belajar di Barcelona dalam beberapa tahun terakhir. Inilah yang diminta oleh pemilik klub, yaitu pengalaman saya selama memperkuat lini belakang Barcelona,'' kata Vermaelen seperti dikutip Reuters, beberapa waktu lalu.

Mikitani memang menjadi sosok kunci kepindahan alumni Barcelona ke Vissel Kobe, termasuk saat membujuk Iniesta hijrah ke Jepang. Mikitani pula yang sukses membawa level kerja sama antara Barcelona dan Vissel Kobe ke tingkat yang lebih tinggi. Terhitung sejak musim depan, Vissel Kobe tidak lagi hanya sekadar klub ''penampung'' pemain-pemain eks Barcelona, tapi lebih dari itu.

Kedua klub diharapkan bisa berbagi informasi soal aspek teknis, mulai dari metode pelatihan hingga sistem kerja staf pelatih. Tidak hanya itu, kedua klub juga saling berbagi pengetahuan dalam hal peningkatakan bisnis klub. Namun, yang lebih penting lagi, kerja sama ini memungkinan adanya pertukaran pemain muda Vissel Kobe dengan pemain muda didikan akademi sepak bola Barcelona, La Masia.

''Lebih jauh, kedua klub akan berbagi laporan, soal progres para pemain dan analisis tim secara keseluruhan. Selain itu, Barcelona akan membantu Vissel Kobe melakukan scouting pemain dari seluruh penjuru dunia. Sementara, Vissel Kobe memberikan pengetahuannya soal pasar pemain-pemain muda di wilayah Asia kepada Barcelona,'' tulis keterangan resmi Barcelona.

Berkas kerja sama antara Barcelona dan Vissel Kobe ini ditandatangani langsung oleh Mikitani dan Presiden Barcelona, Josep Maria Bartemou, pasca-laga persahabatan antara Barcelona kontra Vissel Kobe. Dalam laga itu, Barcelona sukses membungkan Vissel Kobe, 2-0, akhir pekan lalu.

Dengan kerja sama ini, Vissel Kobe dinilai tengah berusaha mereplikasi kesuksesan Barcelona di Eropa, dan membawanya ke pentas Asia. Namun, sebelum berbicara soal prestasi di kancah regional, tantangan terbesar Andres Iniesta dan kawan-kawan adalah dengan memperbaiki performa Vissel Kobe di pentas Liga Jepang. Pada musim lalu, kendati telah diperkuat sejumlah mantan pemain bintang Barcelona, tapi perjalanan Vissel Kobe masih kurang meyakinkan.

Bahkan, hingga pertengahan musim Liga Jepang 2019, tim besutan mantan gelandang timnas Jerman, Thorsten Frings, itu masih terpuruk di peringkat ke-15. Hanya mengoleksi 21 poin dari 20 laga, Vissel Kobe mengantongi selisih tiga poin dari zona degradasi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA