Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Griezmann dan Paradoks Sebagai Algojo Penalti

Ahad 15 Sep 2019 04:00 WIB

Rep: Anggoro Pramudya/ Red: Endro Yuwanto

Pesepak bola Prancis Antoine Griezmann mencetak gol dari titik penalti.

Pesepak bola Prancis Antoine Griezmann mencetak gol dari titik penalti.

Griezmann gagal menjadi eksekutor tendangan secara beruntun vs Albania dan Andorra.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Terlepas dari segala unsur di dalam sepak bola, tendangan penalti khususnya, dapat mendeskriditkan seorang pemain profesional. Sebab, faktor untuk menjadi eksekutor penalti adalah sebuah keputusan tentang berbagai macam paradoks.

Melangkah mundur ke belakang pada final Piala Dunia 1994 Amerika Serikat (AS), merupakan masa keemasan sepak bola Italia. Jutaan mata tertuju pada laga penentu antara Italia versus Brasil, kala itu Gli Azzurri lebih diunggulkan karena memiliki sederet pemain bintang, seperti Franco Baresi, Daniele Massaro, Roberto Donadoni, dan Roberto Baggio. Bahkan Italia dibesut oleh pelatih sekaliber Arrigo Sacchi.

Otomatis publik berharap trofi keempat segera mendarat di negeri berbentuk sepatu high heels. Sayang, penantian harus tertahan hingga 12 tahun ke depan tepatnya pada Piala Dunia 2006. Itu setelah 'Si Kuncir Kuda', Roberto Baggio, gagal mengeksekusi penalti.

Bahkan, jika bisa dianggap sebagai catatan kelam sejarah dunia, penalti Baggio pada Piala Dunia 1994 adalah salah satunya. Baggio tak layak mendapatkan kepahitan tersebut setelah tampil menawan di sepanjang turnamen sepak bola terbesar musim panas itu.

Sejarah sudah tertulis di buku dan tersimpan rapih di rak lemari paling pojok perpustakan Casanatense, Kota Roma. Mungkin Baggio sekaligus para pemain Italia lainnya enggan membuka lembaran gelap tersebut.

Secarik penjelasan terkait tendangan penalti disampaikan oleh 'nabi' sepak bola asal Belanda, Johan Cruyff, ia menjelaskan bahwa pelaku atau algojo penalti merupakan sosok yang mengambil tanggung jawab besar (individu). Meski sejatinya ia dibebaskan oleh tanggung jawab kolektif (tim) karena tendangan penalti sejatinya meletakkan nasib sepenuhnya pada kesempatan dan keberuntungan.

Fragmen di atas menggambarkan kegelisahan penyerang timnas Prancis, Antoine Griezmann saat ini. Meski sukses mengantarkan Les Bleus meraih angka sempurna pada dua laga Kualifikasi Piala Eropa 2020, Griezmann gagal menjadi eksekutor tendangan titik putih. Bahkan itu terjadi secara beruntun versus Albania dan Andorra.

Padahal, merujuk pada catatan Opta, Rabu (11/9), sebelumnya Griezmann selalu sukses mengonversi tujuh gol penalti bersama Prancis. Menurut sumber yang sama, pemain Barcelona itu juga menjadi penggawa Ayam Jantan pertama yang gagal melakukan penalti di dua laga berturut.

"Gagal mengambil tendangan penalti sangatlah menyebalkan. Tapi, itu bukti bahwa saya harus terus bekerja keras," kata pesepak bola 28 tahun itu.

Kisah tak berakhir sampai di situ. Kegagalan eks penyerang Real Sociedad dan Atletico Madrid dalam mengambil tendangan penalti menguapkan kembali momen-momen nahas tersebut.

Adegan paling pahit dari kandasnya sepakan penalti Griezmann adalah ketika bentrok versus Real Madrid di final Liga Champions 2015/2016 silam. Pada waktu normal Griezmann gagal menjalankan tugasnya sebagai seorang algojo penalti. Pertandingan pun berakhir imbang 1-1 dan Los Rojiblancos takluk 3-5 lewat adu penalti.

Rentetan catatan minor Griezmann tersebut ditanggapi oleh pelatih timnas Prancis, Didier Deschamps. Ia mengaku akan berbicara dengan pemain soal tugas sang bintang dari titik putih. Meski demikian, Deschamps tetap menaruh kepercayan kepada pemilik nomor punggung 7 itu.

"Dia (Griezmann) tidak sedang berjudi. Ketika ia memiliki kesempatan, maka ia akan menjalankan kesempatan itu secara maksimal. Saya akan membicarakan itu dengannya," kata Deschamps.

Griezmann bisa dikatakan lebih beruntung dari Roberto Baggio yang merasa depresi berat usai kejadian di Stadium Rose Bowl, Amerika Serikat, serta sang maestro tembakan akurat David Beckham yang gagal membawa timnas Inggris tembus ke final Piala Eropa 2004. Keduanya sempat membuat tifosi menangis dan memdapat kecaman setelah gagal mengeksekusi 'nasib'.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA