Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Thursday, 25 Safar 1441 / 24 October 2019

Ganda Bulu Tangkis Raih Prestasi Langka di Negeri Cina

Senin 23 Sep 2019 05:58 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Pasangan ganda putra Indonesia Kevin Sanjaya Sukamuljo (kiri) dan  Markus Fernaldi Gideon pada final ganda putra Japan Open Championship di Tokyo, Jepang Ahad (24/9)

Pasangan ganda putra Indonesia Kevin Sanjaya Sukamuljo (kiri) dan Markus Fernaldi Gideon pada final ganda putra Japan Open Championship di Tokyo, Jepang Ahad (24/9)

Foto: Franck Robichon/EPA-EFE
Ganda Bulutangkis Indoneisa meraih prestasi langka di neger Cina

REPUBLIKA.CO.ID, JIANGSU -- Keberhasilan ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon meraih gelar juara di ajang Cina Terbuka 2019 menjadi prestasi langka bagi bulu tangkis Indonesia. Untuk pertama kalinya Indonesia mampu menyabet seluruh titel juara turnamen BWF Tour level 1000 dalam satu tahun kalender.

Kemenangan atas Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan dengan skor 21-18, 17-21, dan 21-15 di Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium, Changzhou, Jiangsu, Cina, pada Ahad (22/9) menjadi penanda superioritas ganda putra Indonesia tahun ini. Sebelumnya, gelar juara All England dan Indonesia Terbuka yang punya level 1000 juga mampu diamankan ganda putra Indonesia.

Hendra/Ahsan meraih gelar juara All England, sedangkan Marcus/Kevin menyabet titel kampiun Indonesia Terbuka. Bersama Cina Terbuka, dua turnamen tersebut merupakan kejuaraan level tertinggi di sepanjang rangkaian BWF Tour.

Gelar Cina terbuka sendiri adalah trofi kelima bagi Kevin/Marcus tahun ini. Sebelumnya, mereka juga meraih gelar di ajang Malaysia Masters, Indonesia Masters, Indonesia Terbuka, dan Jepang Terbuka.

Saat berjumpa sang senior, Kevin/Marcus yang sempat kehilangan gim kedua tampil lebih agresif di gim ketiga. Hendra/Ahsan pun tak dapat menahan laju Kevin/Marcus dan ketinggalan jauh 3-11. Kevin/Marcus akhirnya memenangkan pertandingan.
"Hari ini (kemarin—Red) saya mainnya enggak enak banget, apa karena tempo lawan atau karena angin, di atas itu bolanya seperti goyang, jadi mau dismes enggak enak. Mereka sudah pengalaman banget. Bang Ahsan badannya enggak fit saja bisa masuk final," kata Marcus selepas pertandingan.

Marcus mengatakan, permainan berubah pada gim ketiga setelah ia dan Kevin meningkatkan tempo. "Di gim ketiga, kami harus lebih berani, di gim pertama dan kedua suka ragu pukulannya, di gim ketiga lebih berani, tapi temponya tetap dengan tempo main kami," ungkapnya.

Kevin pun bahagia bisa meraih gelar di Cina. "Yang pasti kami senang dapat gelar di sini, tahun lalu kami enggak dapat gelar di sini. Kami bersyukur dengan berkat ini," ujar dia.

Hendra/Ahsan sebenarnya mampu mengimbangi permainan juniornya. Namun, di tengah pertandingan, Ahsan tampak tertatih hingga sulit menutup ruang yang menganga ketika Minions melepaskan serangan.

Setelah laga, Ahsan mengungkapkan, kedua betisnya mengalami masalah. Meski demikian, ia tetap bersyukur atas pencapaian di Cina Terbuka 2019.

"Kami bersyukur, alhamdulillah, bisa sampai final walaupun kondisi saya begini. Sepertinya sakitnya jadi menjalar dari betis ke paha. Memang begini keadaannya. Sehat saja susah lawan mereka, apalagi sakit. Memang Kevin/Marcus juga pemain bagus," kata Ahsan.

Akibat cedera yang dialami, Ahsan dan Hendra sepakat untuk absen dari turnamen BWF Tour selanjutnya, Korea Terbuka 2019. Hendra mengatakan, pemulihan Ahsan memakan waktu sehingga turnamen level 500 yang akan dimulai pada 24 September itu tak mungkin bisa mereka ikuti.

"Kami batal ke Korea Open, sudah pasti enggak ikut. Lebih baik Ahsan ke dokter dulu, recovery, dan fokus persiapan ke turnamen selanjutnya. Ada waktu sekitar tiga mingguan," ungkap Hendra.

Hendra/Ahsan berencana kembali di turnamen Denmark Terbuka 2019 BWF World Tour Super 750 dan Prancis Terbuka 2019 BWF World Tour Super 750 pada Oktober mendatang.

Mendominasi
Pertemuan Minions (julukan Marcus/Kevin) dan the Daddies (Ahsan/Hendra) di partai puncak turnamen BWF Tour musim ini bukan yang pertama kalinya musim ini. Secara konsisten, keduanya berhasil mendominasi sektor ganda putra.

Final antara Minions dan the Daddies pertama terjadi pada Indonesia Masters 2019, kemudian berlanjut ke Indonesia Terbuka 2019 dan Jepang Terbuka 2019. Semuanya berhasil dimenangkan Marcus/Kevin.

Rentetan catatan tersebut mengantarkan mereka sebagai dua pasangan ganda putra terbaik dunia saat ini. Marcus/Kevin mantap duduk di peringkat pertama dunia BWF, kemudian diikuti Ahsan/Hendra di posisi kedua.

Khusus bagi Marcus, gelar ini membuatnya menyamai rekor legenda bulu tangkis Tanah Air, Liliyana Natsir alias Butet. Bersama Butet yang pernah berjaya di sektor ganda campuran, Marcus punya 24 gelar titel Super Series atau minimal level 500.

Di bawah Marcus, menguntit Kevin dengan 23 gelar, Hendra Setiawan 20, dan mantan pasangan Butet, Tontowi Ahmad, 17.

Tahun ini, Ahsan/Hendra hanya tertinggal satu gelar dari Marcus/Kevin. Pasangan yang mengambil jalur profesional ini tercatat sudah meraih tiga gelar juara, yaitu All England Terbuka, Selandia Terbuka, dan Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis.

Anthony runner-up

Indonesia nyaris membawa pulang dua gelar dari Negeri Tirai Bambu. Namun, satu gelar harus lepas seiring kekalahan tunggal putra Anthony Sinisuka Ginting atas Kento Momota asal Jepang. Sang juara bertahan Cina Terbuka kalah dengan skor 21-19, 17-21, 19-21 di laga final.

Meski ditaklukkan Momota, perjuangan Anthony melawan pemain nomor satu dunia tersebut patut diacungi jempol. Kedua pemain sudah saling berkejaran angka sejak gim pertama. Anthony yang bermain menyerang terus menekan pertahanan Momota dengan smes loncat andalannya.

Namun, di gim kedua, Anthony terlalu banyak membuat kesalahan sendiri yang terus menambah perolehan poin Momota sehingga gim penentuan terpaksa dimainkan. Pada gim ketiga, Anthony sempat membuka peluang saat tertinggal 16-19 dan menyamakan kedudukan menjadi 19-19. Namun, Momota akhirnya menutup gim dengan kemenangan sekaligus membalas kekalahannya di final tahun lalu.

"Memang ketat pertandingannya. Waktu ketinggalan 3-9 di gim ketiga, memang saya banyak mati sendiri. Waktu ketinggalan itu saya pikir, ya, coba saja, kan belum selesai," kata Anthony.

Pebulu tangkis asal Jawa Barat ini sempat merasa kesal karena kerap membuat kesalahan sendiri di gim ketiga. Kesalahan-kesalahan ini membuatnya sulit mengontrol mental. Beruntung, Anthony mengaku masih menguasai situasi.

"Semua ragu dibuang saja, yang penting saya coba dulu. Ragu itu muncul dari pikiran yang tidak dikontrol, jadi tadi saya coba balik fokus, yang penting siap //capek// dulu. Waktu itu, saya coba ubah strategi dan banyak dapat poin, tapi saya ketinggalan terlalu jauh sehingga Momota sudah antisipasi dan kembali ke pola awal," ujarnya. ed: gilang akbar prambadi

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA