Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Li Na tak Mau Ikut-ikutan Ayunkan Raket Lagi

Senin 23 Sep 2019 19:31 WIB

Red: Endro Yuwanto

Petenis Cina, Li Na, melakukan selebrasi usai mengalahkan petenis Serbia, Jelena Jankovic, di laga turnamen tenis Amerika Terbuka di Flushing Meadows, New York, Amerika Serikat, Ahad (1/9).

Petenis Cina, Li Na, melakukan selebrasi usai mengalahkan petenis Serbia, Jelena Jankovic, di laga turnamen tenis Amerika Terbuka di Flushing Meadows, New York, Amerika Serikat, Ahad (1/9).

Foto: EPA/John G. Mabanglo
Li gembira jauh dari tekanan tenis dan tak paksa anak-anaknya menekuni olahraga.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan petenis putri nomor satu China, Li Na, menyatakan tidak ingin ikut-ikutan kembali bermain tenis setelah menyatakan pensiun dan mempunyai anak, kendati ia mengaku merindukan perjuangan dan kompetisinya. Li Na pensiun dari tenis pada usia 32 dan telah dikaruniai dua anak.

Dikutip dari AFP, Senin (23/9), Li Na menegaskan tidak ingin comeback, kendati pemain seperti Serena Williams dan Victoria Azarenka menikmati sukses setelah melahirkan. Juara grand slam empat kali dan ibu tiga anak Kim Clijsters baru saja mengumumkan akan kembali mengikuti tur tahun depan, namun Li Na mengatakan ia tidak akan meniru petenis Belgia itu.

"Seratus persen, tinggal di rumah," kata Li Na. "Jauh lebih mudah, tidak banyak tekanan. Setidaknya di rumah Anda melakukan sesuatu dan tidak ada yang tahu. Tapi di lapangan tenis, jika Anda membanting raket, seluruh dunia tahu."

Li mengakui kangen dengan "perjuangan dan kompetisinya" namun ia gembira jauh dari tekanan sirkuit tenis dan mengatakan ia tidak akan memaksa anak-anaknya mengambil dunia olahraga. "Pertama Anda ingin menumbuhkan minat pada olahraga. Ketika seorang anak dengan tulus tertarik pada sesuatu, Anda bahkan tidak perlu mendorong mereka untuk melakukan sesuatu. Jika Anda memaksa mereka untuk melakukan sesuatu, hasilnya tidak akan baik," jelas dia.

Pada kesempatan yang sama Li Na mengatakan bahwa negaranya sangat membutuhkan figur petenis putra yang bisa menjadi panutan. Li memunculkan minat pada tenis di seluruh negeri China yang belum pernah terjadi sebelumnya, setelah ia menjadi petenis Asia pertama yang menjadi juara nomor tunggal grand slam pada French Open 2011. Ia pensiun pada 2014 setelah menambahkan gelar besar keduanya pada Australia Open tahun itu.

Saat ini, terdapat empat petenis putri China yang berada pada 50 peringkat teratas dunia. Namun petenis putra peringkat teratas negeri itu, Bai Yan, berada pada ranking 222 dalam ATP Tour.

"Saya berharap kelompok putra bekerja dengan baik. Itu akan hebat," kata Li kepada reporter pada turnamen WTA Tour Wuhan Open di kota tempat tinggalnya pekan ini, tempat diselenggarakan upacara khusus untuk merayakan masuknya Li Na ke dalam International Tennis Hall of Fame. "Saya kira untuk putra, mereka membutuhkan satu pemain untuk tumbuh dan menunjukkan kepada semua orang 'saya berhasil' dan memberi percaya diri bagi atlet muda lainnya."

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA