Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

Kemenangan Inggris Dinodai Aksi Rasisme

Selasa 15 Oct 2019 17:06 WIB

Rep: Eko Supriyadi/ Red: Bayu Hermawan

Gareth Southgate (kiri) memberikan apresiasi kepada Marcus Rashford.

Gareth Southgate (kiri) memberikan apresiasi kepada Marcus Rashford.

Foto: AP Photo/Petr David Josek
Kemenangan Inggris atas Bulgaria dinodai aksi rasisme.

REPUBLIKA.CO.ID, SOFIA -- Kemenangan besar Inggris atas Bulgaria ternoda oleh perkataan rasisme. Para pemain Inggris menjadi sasaran rasisme yang dilakukan oleh suporter tuan rumah dalam pertandingan kualifikasi Piala Eropa 2020.

Penyerang Inggris Marcus Rashford merupakan salah satu pemain yang dihujat dengan nada rasisme oleh suporter Bulgaria.  Karena serangan rasisme yang begitu masif, kapten Inggris pun Harry Kane bicara ke wasit Ivan Bebek saat laga baru berjalan 28 menit, sebagai bagian dari langkah ketiga protokol UEFA.

Namun, serangan rasisme tersebut ternyata tak kunjung berhenti. Manajer Inggris Gareth Southgate mendatangani wasit keempat sebelum babak pertama usai. Hasilnya ofisial mengambil langkah kedua protokol UEFA, yaitu menghentikan laga untuk sementara waktu. Penghentian tersebut berlangsung selama dua kali pada babak pertama.

Untungnya, serangan rasisnya itu tidak berlangsung pada babak kedua, dan membuat Inggris menang 6-0. Pihak keamanan yang dipekerjakan oleh Bulgaria secara khusus, menolak masuk sekelompok fan yang ingin masuk ke stadion. Fan yang berjumlah sebanyak 20 sampai 25 orang tersebur menggunakan pakaian serba hitam, yang merupakan bagian dari kelompok neo-Nazi dan diketahui melakukan hormat Nazi.

Setelah pertandingan yang berakhir, FA menegaskan bahwa pemain Inggris memang menjadi sasaran nyanyian rasisme. FA menyesalkan bahwa pertandingan di level Piala Eropa ini masih terdapat insiden rasisme. Apalagi, ini bukan kali pertama pemain the Three Lions tersebut menjadi sasaran rasisme. Bulgaria pernah didenda sebesar 40 ribu euro pada 2011 lalu, karena kasus serupa terhadap Ashley Yung, Ashley Cole dan Theo Walcott pada kualifikasi Piala Eropa 2012.

''Tidak ada tempat untuk sikap semacam ini di masyarakat, khususnya di sepakbola. Kami akan meminta UEFA menginvestiasi masalah serius ini,'' ucap FA Inggris, dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Sky Sports, Selasa (15/10).

Marcus Rashford pun angkat bicara soal serangan rasisme yang dilakukan terhadapnya di tahun 2019 ini. Ia juga memuji pemain Bulgaria Ivelin Popov, yang mendatangi fan untuk menghentikan serangan rasisme tersebut. Rashford mengaku, tidak mudah bermain dalam situasi seperti yang terjadi di Sofia tersebut.

''Bangga kami dapat mengambil tiga poin, tapi ini (rasisme) harus diselesaikan,'' tegas Rashford.

Sebelum peristiwa memalukan tersebut, UEFA sempat menutup stadion Vasil Levski National Stadium menyusul insiden selama pertandingan Bulgaria lawan Ksovo dan Republik Ceko Juni lalu. 5 ribu dari kapasitas penonton 46.340 diminta dikosongkan, meskipn jumlah tersebut dikurangi menjadi 3 ribu kursi lawan Republik Ceko bulan depan.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA