Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

KFA: Pertandingan Korsel dan Korut Brutal Seperti Perang

Kamis 17 Oct 2019 18:49 WIB

Red: Bayu Hermawan

Kapten tim nasional Korea Selatan, Son Heung-min.

Kapten tim nasional Korea Selatan, Son Heung-min.

Foto: AP
Wakil Presiden KFA mengatakan pertandingan berjalan brutal.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL -- Timnas Korea Selatan bertandang ke Pyongyang, untuk menghadapi timnas Korea Utara dalam pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2022. Wakil Presiden Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) Choi Young Il menilai, pertandingan melawan Korut berjalan 'brutal' karena banyaknya benturan fisik 'seperti perang'.

Pertandingan itu yang merupakan pertemuan pertama kedua tim di Korea Utara dalam 30 tahun terakhir, berakhir seri 0-0 dan dimainkan di stadion yang sama sekali tidak ada penontonnya. Pertandingan ini juga tidak disiarkan oleh satu pun televisi karena Korea Utara menolak menayangkan langsung pertandingan ini.

Korea Utara yang terkucil dan Korea Selatan yang demokratis nan kaya secara teknis masih dalam keadaan perang. Sebab perang saudara 1950-1953 berakhir tanpa ada gencatan senjata dan perjanjian damai. Tahun lalu, berlangsung diplomasi olahraga antara dua Korea tetapi sejak itu hubungan mereka mendingin lagi setelah mandeknya perundingan nuklir dan rudal Korea Utara.

Striker Tottenham Hotspur Son Heung-min menyebut laga di Pyongyang itu sebagai pertandingan yang sangat emosional. "Sejujurnya, pertandingan itu keras sekali sampai-sampai saya berpikir kami sangat beruntung bisa pulang tanpa ada seorang pun yang cedera," kata pemain ini kepada wartawan Selasa begitu tiba di bandara Incheon via Beijing.

"Kami bahkan bisa mendengar banyak umpanan yang sangat kasar dari kedua tim," ucapnya.

Sementara Choi Young-il, wakil presiden Asosiasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA), mengungkapkan para pemain Korea Utara luar biasa agresif. "Pertandingan itu laksana perang," kata dia seperti dikutip Reuters.

"Mereka menggunakan apa saja dari sikut sampai tangan sampai lutut untuk menghalau pemain-pemain kami. Sungguh pertandingan yang sulit."

Kedua tim masing-masing diganjar dua kartu kuning. Choi menambahkan, para pemain Korea Utara bahkan tak mau kontak mata ketika kami berbicara kepada mereka, belum lagi respons mereka.

Choi mengungkapkan KFA berencana membahas apakah pertandingan ini akan mendorong mereka mengajukan keberatan kepada badan sepak bola dunia FIFA atau Konfederasi Sepak Bola Asia mengenai cara Korea Utara menjalani pertandingan itu.

Dalam video yang dibagikan di Twitter oleh duta besar Swedia untuk Korea Utara Joachim Bergstrom, Son terlihat berusaha memainkan peran penengah karena para pemain kedua tim terus berkonfrontasi satu sama lain.

"Emosi tingkat tinggi," tulis Bergstrom dalam cuitannya. Dia termasuk dari segelintir penonton yang diperbolehkan menonton lagi ini bersama Presiden FIFA Gianni Infantino.

Korea Utara menyedikan rekaman pertandingan ini dalam DVD tetapi stasiun televisi Korea Selatan KBS batal menyiarkan ulang Kamis ini karena kualitas videonya jelek. Menteri Unifikasi Korea Selatan Kim Yeon-chul yang mengurusi masalah hubungan intra-Korea Kamis mengatakan memang "sangat mengecewakan" Korea Utara tak membolehkan pertandingan itu disiarkan langsung.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA