Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Sunday, 20 Rabiul Awwal 1441 / 17 November 2019

Curhat Mesut Ozil Jadi Korban Rasisme di Jerman

Kamis 17 Oct 2019 22:54 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Bayu Hermawan

Selebrasi Mesut Ozil setalh mencetak gol bagi Arsenal pada pertandingan Group E Liga Eropa antara Arsenal melawan Vorskla di  London, Inggris

Selebrasi Mesut Ozil setalh mencetak gol bagi Arsenal pada pertandingan Group E Liga Eropa antara Arsenal melawan Vorskla di London, Inggris

Foto: Kirsty Wiggleworth/Antara
Mesut Ozil mengaku tak pernah menyesal meninggalkan timnas Jerman.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Gelandang Arsenal, Mesut Ozil mengaku dirinta tak pernah menyesal pensiun dari dunia sepakbola internasional. Menurutnya, alasan utama dirinya mengundurkan diri karena terkait rasisme yang masih menjadi masalah besar di negara asalnya, Jerman.

Pesepakbola berusia 31 tahun itu mundur dari timnas Jerman pasca putaran final Piala Dunia 2018. Ia mengatakan bahwa dirinya telah mengalami pelecehan rasis lantaran foto dirinya dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan sebelum berlangsung turnamen. "Setelah merenung saya tahu itu adalah adalah keputusan yang tepat," kata Ozil kepada the Athletic seperti dilansir Daily Sabah pada Kamis (17/10).

Ozil mengatakan, dirinya sempat sulit menerima menjadi sasaran aksi rasisme. Sebab, selama sembilan tahun membela timnas Jerman, dirinya telah tampil sepenuh hati, salah satunya adalah Ozil ikut mempersembahkan trofi Piala Dunia untuk Jerman.

"Tetapi setelah foto itu, saya merasa tak dihargai dan tak dilindungi. Saya mendapat pelecehan rasis bahkan dari politisi dan tokoh masyarakat, tapi tak seorangpun dari timnas keluar dan berkata, hei berhenti, ini adalah pemain kami. Semua orang diam saja dan membiarkan itu terjadi," ujarnya.

Ozil lahir di Jerman dengan orang tua dari Turki. Ozil menjelaskan bahwa rasisme telah menjadi masalah serius di negara asalnya.  "Ada masalah besar di Jerman, lihat saja apa yang terjadi di Helle pekan lalu, serangan anti-semit. Sayangnya rasisme bukan lagi masalah sayap kanan di negara ini, tapi telah bergeser ke tengah-tengah masyarakat," jelasnya.

Ozil pun mengungkapkan bahwa dirinya menjadi sasaran pelecehan rasis selama piala dunia, saat Jerman gagal lolos dari babak penyisihan grup. "Saat kami tersingkir dan saya keluar dari lapangan, orang-orang Jerman mengatakan kembalilah ke negaramu, brengsek, babi Turki dan hal-hal seperti itu," ucapnya.

"Sebelum piala dunia, saya seharusnya menjadi pemeran beberapa perjanjian komersial, tapi tiba-tiba mereka membatalkan semuanya dan mengeluarkan saya dari kampanye mereka, beberapa badan amal juga mencopot saya sebagai duta besar dan menyarankan saya menjauhkan diri dari foto itu," ujarnya.

Ozil mengaku, salah satu kejadian yang paling membuatnya merasa sakit hati adalah saat dirinya hendak mendatangi acara sebuah sekolah di Gelsenkirchen. Ozil mengatakan, dirinya merupakan alumni dari sekolah itu. Selama ini, dia selalu membantu program-program dari sekolah itu, namun tiba-tiba pihak sekolah melarangnya pascakasus foto bersama Erdogan mencuat.

"Direktur sekolah mengatakan pada tim, saya tak boleh datang karena sorotan media dan munculnya partai sayap kanan AfD di kota mereka. Saya tak bisa mempercayainya, kota asalku, sekolahku. Saya mengulurkan tangan, tapi mereka tak mengembalikannya. Saya tak pernah merasa begitu tak disukai," tegasnya.

Ozil mengalami awal yang sulit musim ini, ia bermain hanya dua kali dalam 11 pertandingan untuk Arsenal. Ia juga menjadi sasaran dalam upacara pencurian mobil di luar rumahnya. Meski begitu, pemain yang telah menandatangani kontrak tiga setengah tahun pada Februari 2018 untuk Arsenal itu mengatakan bahwa dirinya tak berniat meninggalkan klub.

"Saya punya kontrak sampai musim panas 2021,  dan saya akan bertahan sampai saat itu. Ketika saya menandatangani kontrak baru, saya memikirkannya dengan hati-hati, dan mengatakan itu adalah keputusan terpenting dalam karir sepakbola  saya. Saya ingin berkomitmen untuk masa depan saya, Arsenal dan klub ingin melakukan hal yang sama. Anda bisa melewati masa-masa sulit seperti ini tetapi bukan alasan untuk melarikan diri, dan saya tak akan melakukannya. Saya di sini setidaknya sampai 2021," jelasnya.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA