Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Tuesday, 15 Rabiul Awwal 1441 / 12 November 2019

Sultan: Lebih Baik tidak Ada Sepak Bola di Yogyakarta

Selasa 22 Oct 2019 19:53 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Fernan Rahadi

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X saat diwawancara wartawan  di Depan Gedhong Wilis Kepatihan Yogyakarta, Senin (17/12).

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X saat diwawancara wartawan di Depan Gedhong Wilis Kepatihan Yogyakarta, Senin (17/12).

Foto: Republika/Neni Ridarineni
Ia menyayangkan hal tersebut dilakukan oleh suporter yang merupakan warga DIY.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengaku prihatin terhadap kericuhan yang terjadi saat pertandingan PSIM versus Persis Solo di Stadion Mandala Krida, Senin (21/10) kemarin. Menurutnya, kericuhan tersebut merupakan perilaku yang tidak beradab. 

"Lebih baik tidak ada sepak bola saja di Yogya. Karena hanya akan membangun orang yang tidak beradab," kata Sultan di Sekolah Tinggi Multi Media (MMTC) Yogyakarta, Selasa (22/10). 

Ia pun juga menyayangkan hal tersebut dilakukan oleh suporter yang merupakan warga DIY. Bahkan, kata Sultan, kericuhan tersebut dilakukan dengan merusak fasilitas umum dan juga adanya kekerasan. 

"Penonton ini hakikatnya adalah masyarakat Yogya, berperilaku brutal tidak beradab, tanpa alasan yang jelas. Tidak hanya melakukan kekerasan, tapi juga pengrusakan terhadap aset negara. Kalau seperti ini bukan bermain bola itu yang ditonton, tapi pertunjukan kekerasan tidak beradab itu yang ditonton," katanya. 

Ke depan, ia berharap agar kejadian tersebut tidak terjadi lagi di dunia sepak bola Indonesia. Ia menekankan agar seluruh masyarakat untuk menjunjung tinggi perilaku sopan. 

"Saya tidak mengerti itu, kenapa harus menjadi orang beringas. Katanya Yogya ini berbudi luhur, orangnya sopan. Tapi kenapa keluarnya kekerasan. Orang Yogya sebetulnya tidak punya karakter seperti itu," ujarnya. 

Untuk penggunaan Stadion Mandala Krida sebagai tempat pertandingan sepak bola ke depan, tentunya akan dievaluasi. Hal ini guna menjaga stadion agar tidak kembali dirusak dan terjadi kericuhan di kawasan tersebut. 

"Saya pun akan berpikir kalau Mandala Krida dipakai kan gitu. Nanti suatu saat bisa rusak juga, hanya sekarang saja yang belum," kata Sultan. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA