Tuesday, 13 Rabiul Akhir 1441 / 10 December 2019

Tuesday, 13 Rabiul Akhir 1441 / 10 December 2019

Kembalinya Persik ke Habitat Asal dan Kisah Kejayaannya

Senin 02 Dec 2019 13:52 WIB

Rep: Rahmat Fajar/ Red: Endro Yuwanto

Sejumlah pesepak bola Persik Kediri mengangkat Piala Juara Liga 2 2019 usai pertandingan Final Liga 2 2019 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Senin (25/11/2019).

Sejumlah pesepak bola Persik Kediri mengangkat Piala Juara Liga 2 2019 usai pertandingan Final Liga 2 2019 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Senin (25/11/2019).

Foto: ANTARA FOTO
Persik pernah mencapai masa kejayaannya antara tahun 2003 hingga 2008.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Persik Kediri memastikan promosi ke kasta tertinggi sepak bola Indonesia musim depan. Ini setelah Persik menjuarai Liga 2 2019.

Keberhasilan ini, sejatinya adalah kembalinya Persik ke habitat asalnya. Sebab, Persik bukan tim kecil dalam sejarah persepakbolaan Indonesia.

Skuat Persik pernah menjadi klub yang ditakuti oleh lawan-lawannya. Tim yang berjuluk Macan Putih mencapai masa kejayaannya antara tahun 2003 hingga 2008.

Promosi ke Divisi Utama pada 2003, tim ini langsung juara. Pencapaian yang lebih dahsyat daripada Leicester City sebagai juara Liga Primer Inggris musim 2015/2016.

Tim yang dilatih Jaya Hartono kala itu mampu merusak domonasi tim-tim kuat seperti Persija Jakarta dan PSM Makassar. Ebi Sukore, Khusnul Yuli, dan Bobby Manuel dia ntara pemain Persik saat itu.

Era kedua keemasaan Persik datang pada 2006. Pecinta sepak bola Indonesia tentu masih ingat bagaimana ketajaman Cristian Gonzales kala berseragam Persik. Dia didatangkan dari PSM Makassar pada 2005.

Ronald Fagundez dan Danilo Fernando yang didatangkan pada 2006 membuat skuat Persik begitu menakutkan kala itu. Ditambah kelincahan dan ketajaman Budi Sudarsono ketika di depan gawang lawan.

Era Cristian Gonzalez, Ronald Fagundez, Danilo Fernando, dan Budi Sudarsono disebut-sebut sebagai masa kejayaan periode kedua Persik setelah 2003. Zaman Persik menjadi juara Liga Indonesia kali kedua saat itu dilatih Daniel Roekito.

Tim yang bermarkas di Stadion Brawijaya itu selalu diunggulkan menjuarai Liga Indonesia pada musim berikutnya. Hal tersebut tak lepas dari bergabungnya pemain-pemain top tanah air saat itu seperti Markus Horizon, Saktiawan Sinaga, Legimin Rahardjo, Mahyadi Panggabeyan, dan Usep Munandar pada musim 2008/2009.

Namun, meski diisi oleh pemain bertabur bintang, Persik gagal mengulangi kesuksesan sebagai juara. Persik harus puas finis di urutan keempat dan Persipura saat itu keluar sebagai kampiun.

Tahun 2009, era kemunduran Persik dimulai. Tim ini mulai ditinggalkan pemain bintangnya. Pada 2015, Persik harus bermain di kasta kedua sepak bola Indonesia akibat degradasi yang disebabkan persoalan finansial Pukulan paling telak bagi Persikmania, julukan pendukung Persik terjadi pada 2017, saat tim ini harus bermain di Liga 3.

Kini, Macan Putih kembali. Akankah tim asal Jawa Timur ini bisa mengulang lagi kejayaannya pada periode 2003 sampai 2008 silam?

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA