Selasa, 13 Rabiul Akhir 1441 / 10 Desember 2019

Selasa, 13 Rabiul Akhir 1441 / 10 Desember 2019

Gubernur Jatim Minta Pelatih Shalfa Minta Maaf

Senin 02 Des 2019 17:58 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Endro Yuwanto

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

Foto: ROL/Fakhtar K Lubis
Permintaan gubernur ini disampaikan setelah sang atlet diterpa isu keperawanan.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa, meminta pelatih di Persatuan Senam Seluruh Indonesia (Persani) meminta maaf kepada atlet, Shalfa Avrila. Permintaan gubernur ini disampaikan setelah sang atlet diterpa isu keperawanan.

"Kembali saya ingin menyampaikan kalau itu betul dilakukan pelatih, saya mendesak jawaban atau respons tertentu. Maka, saya minta tolong pelatih kalau betul melakukan itu segeralah minta maaf. Saya tidak ingin ada trauma muncul bagi atlet junior seperti Shalfa ini," ujar Khofifah kepada wartawan di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Senin (2/12).

Khofifah menegaskan, prinsip olahraga pada dasarnya diukur dari prestasi. Artinya, terdapat hal-hal yang dinilai pada proses pembinaan atlet. Beberapa di antaranya aspek kedisiplinan, karakter, dan prestasi.

"Oleh karena itu, jika ada hal-hal di luar indikator prestasi yang kemudian memengaruhi, bahkan itu dijadikan dasar pertimbangan utama sampai degradasi, itu yang tidak dibenarkan," kata perempuan yang pernah menjabat sebagai menteri sosial (mensos) RI ini.

Khofifah dapat menerima keputusan pelatih apabila atlet terkait terbukti tidak sesuai standar Persani. Dalam hal ini, apabila prestasi Shalfa terbukti tidak baik sehingga harus dipulangkan ke daerah masing-masing. Sebab, Khofifah mengaku, keputusan tersebut menjadi kewenangan Persani seutuhnya.

"Tentu ini adalah kritik dan koreksi untuk kita semua bahwa di dunia keolahragaan. Kita harus lakukan pembenahan supaya apa yang kita jadikan pertimbangan utama itu prestasi sang atlet," ujar Khofifah.

Sebelumnya, beredar kabar terdapat atlet senam dipulangkan paksa dari Pelatnas SEA Games oleh Persani. Kepulangan ini karena adanya laporan bahwa atlet tersebut sudah tidak perawan.

Kementerian Olahraga (Kemenpora) RI telah membantah isu tersebut. Pemerintah mengklarifikasi bahwa pemulangan atlet itu akibat indisipliner dan tidak fokus. Atlet juga disebut-sebut mengalami penurunan prestasi sehingga gagal mewakili Indonesia ke SEA Games Filipina 2019.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA