Senin, 2 Jumadil Akhir 1441 / 27 Januari 2020

Senin, 2 Jumadil Akhir 1441 / 27 Januari 2020

Raih Perak di Filipina, Rifki Lebih Senang Jadi Underdog

Ahad 08 Des 2019 16:08 WIB

Rep: Frederikus Bata/ Red: Ratna Puspita

Karateka Indonesia Rifki Ardiansyah Arrosyiid. Rifki gagal menyumbang medali emas pada SEA Games 2019 setelah kalah dari Nguyen Tanh Duy (Vietnam), 1-2.

Karateka Indonesia Rifki Ardiansyah Arrosyiid. Rifki gagal menyumbang medali emas pada SEA Games 2019 setelah kalah dari Nguyen Tanh Duy (Vietnam), 1-2.

Foto: Republika/Putra M. Akbar
'Asian Games underdog, tapi dapat emas. Sekarang jadi unggulan,' kata Karateka Rifki.

REPUBLIKA.CO.ID, MANILA -- Karateka Indonesia, Rifki Ardiansyah Arrosyiid, gagal menyumbang medali emas pada SEA Games 2019. Semula, sosok 21 tahun itu diunggulkan menjadi yang terbaik di kelas Kumite Individual 60 Kilogram Putera. 

Baca Juga

Pada partai final yang berlangsung di World Trade Centre, Metro Manila, Filipina, Ahad (8/12) siang, Rifki dikalahkan Nguyen Tanh Duy (Vietnam), 1-2. Otomotis wakil merah putih itu meraih medali perak.

"Mohon maaf untuk rakyat Indonesia, belum bisa menyumbang medali emas," katanya saat ditemui selepas bertanding.

Ia mengaku salah memprediksi strategi lawan, Tanh Duy, yang cenderung memakai taktik menyerang balik. Selebihnya, ia mengalami ketegangan biasa layaknya partai final.

"Tegang pasti ada ya. Dia mainnya counter, jadi saya salah mengira," ujar Rifki.

Rifki peraih medali emas Asian Games 2018. Karena itu, ia diharapkan menjadi nomor satu dikelasnya, saat mentas di Filipina.

photo
Karateka Indonesia Rifki Arrosyiid (kiri) melawan karateka Vietnam Nguyen Than Duy dalam final kumite -60Kg putra SEA Games 2019 di World Trade Center Metro Manila, Filipina, Minggu (8/12/2019). Rifki meraih medali perak setelah kalah 1-2 dari lawannya. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Ia merasa tak ada yang salah dari intruksi pelatih, atau pun penampilannya. Namun, perasaan harus menang menghantuinya.

"Pastinya ada beban sih. Soalnya dari Asian Games underdog, tapi dapat emas. Sekarang jadi unggulan. Sebenarnya underdog lebih enak," tutur Rifki.

Secara keseluruhan ia merasa tidak memiliki waktu yang cukup menuju SEA Games 2019. Sebelumnya ia mengalami cedera lutut (ACL). 

Ia hanya mempersiapkan diri selama empat bulan. Sementara saat Asian Games, ia berlatih dan menjalani proses seleksi hingga delapan bulan.

"Itu kurang ya (persiapan SEA Games). Dalam hal mental, fisik, harus di asah lebih lama," ujar Rifki.

Selebihnya, ia merasa persaingan di Asia Tenggara lebih merata. Tim Thailand, Malaysia, dan Vietnam memiliki teknik dan strategi mumpuni.

Cabor karate meraih dua emas dalam dua hari terakhir. Menurut pelatih kepala tim karate Indonesia, Abdullah Kadir, jumlah tersebut sudah memenuhi target yang ditetapkan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA