Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Tuesday, 7 Sya'ban 1441 / 31 March 2020

Selusin Klub, Satu Kevin-Prince Boateng

Ahad 02 Feb 2020 23:12 WIB

Red: Andri Saubani

Kevin Prince-Boateng (kiri).

Kevin Prince-Boateng (kiri).

Foto: EPA-EFE/RAUL CARO
Kevin-Prince Boateng hijrah ke Besiktas setelah melakoni empat laga bersama Barca.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Reja Irfa Widodo

Pada akhir Januari tahun lalu, Barcelona membuat kejutan di bursa transfer pemain dengan mendatangkan Kevin-Prince Boateng sebagai pemain pinjaman dari klub asal Italia, Sassuolo. Selama setengah musim, Boateng diplot untuk menggantikan peran Luis Suarez, yang mengalami cedera, dan Munir El Hadadi, yang hijrah ke Sevilla.

Bahkan, demi bisa mendatangkan Boateng, tim asal Katalan itu rela membayar kompensasi sebesar 1,8 juta euro, ditambah opsi pembelian permanen dengan nilai transfer 8 juta euro pada akhir masa peminjaman. Namun, setelah melakoni empat laga di semua ajang tanpa bisa mencetak gol, kiprah Boateng bersama Barcelona berakhir begitu saja.

Kendati begitu, Boateng masih menarik minat Fiorentina, yang merekrutnya dari Sassuolo pada awal musim ini. Namun, hanya bertahan selama separuh musim di La Viola dengan catatan satu gol dari 15 caps di semua ajang, pemain berusia 32 tahun itu akhirnya harus berganti klub pada pertengahan musim ini. Boateng resmi dipinjamkan ke klub asal Turki, Besiktas, hingga akhir musim ini.

Kepindahan Boateng ke kontestan Liga Super Turki itu menjadi sorotan teranyar dalam kiprah profesional mantan gelandang timnas Ghana tersebut. Besiktas tercatat menjadi klub keempat Boateng dalam dua musim terakhir. Tidak hanya itu, klub berjuluk The Black Eagles itu menjadi klub ke-12 di sepanjang karier profesional Boateng, yang terentang sejak 2004 silam atau 16 tahun lalu.

''Saya senang berada di sini dan menjadi bagian dari The Black Eagles. Saya bersykur bisa bergabung bersama dengan klub ini,'' tulis Boateng di akun media sosial miliknya, usai meresmikan kepindahan ke Besiktas, akhir bulan lalu.

Mengawali karier di tim junior Hertha Berlin, Boateng memang telah malang melintang di sejumlah liga top Eropa, terutama di Spanyol, Italia, Inggris, dan Jerman. Di Spanyol, Boateng pernah memperkuat Las Palmas dan Barcelona. Sedangkan di Italia, Boateng sempat berseragam AC Milan, Sassuolo, dan Fiorentina. Sementara di Inggris, Boateng sempat tampil buat Tottenham Hotspur dan Portsmouth.

Di kancah Bundesliga, Boateng tercatat pernah membela Hertha Berlin, Borussia Dortmund, Schalke 04, dan Eintracht Frankfurt. Kini, Boateng bakal mencoba peruntungan di kompetisi yang benar-benar baru buat dirinya, yaitu Liga Super Turki bersama Besiktas. Dengan rekor selusin klub yang pernah dibelanya, Boateng kian dekat dengan rekor yang digenggam Rivaldo, yang tampil untuk 15 klub di sepanjang karier profesionalnya.

Namun, Boateng masih cukup jauh dengan rekor yang ditorehkan pemain asal Uruguay, Stephen Abreu. Status pemain ''petualang'' memang layak disematkan pada penyerang berusia 41 tahun tersebut. Kepindahannya ke klub asal Cile, Audax Club Sportivo Italiano, pada 2018 menjadikan Abreu sebagai pemain dengan jumlah klub terbanyak yang pernah dibela dengan total 26 klub di 11 negara berbeda.

Terlepas dari torehan Abreu itu, Boateng telah memiliki catatan karier yang cukup panjang apabila dibanding sejumlah pemain top Eropa. Prestasi terbaik Boateng adalah saat mengantarkan AC Milan merengkuh titel Scudetto pada musim 2010/2011. Saat itu, bersama Clarence Seedorf, Robinho, dan Alexander Pato, Boateng menjadi andalan di lini tengah Milan.

Kendati begitu, trofi Scudetto bukanlah satu-satunya koleksi trofi Boateng. Selain raihan titel La Liga bersama Barcelona pada musim lalu, Boateng juga pernah mengantarkan Eintracht Frankfurt menjuarai DFB Pokal pada musim 2017/2018. Pun saat mengantarkan timnas Ghana tampil di putara final Piala Dunia 2010 dan 2014.

Evolusi posisi Boateng

Memasuki usia 32 tahun, Boateng pun mengaku lebih tenang dan lebih dewasa dalam melanjutkan kiprah profesionalnya sebagai pesepakbola. Boateng memang sempat diterpa berbagai kontroversi. Mulai dari keputusannya untuk mundur sepenuhnya dari timnas Ghana saat baru berusia 27 tahun, hingga gaya hidup mewah dengan membeli tiga mobil mewah hanya dalam satu hari kala memperkut Spurs pada rentang waktu 2007 hingga 2009.
 
Bahkan, dalam sebuah wawancara dengan La Gazzetta delo Sports, Boateng mengaku cukup menyesal tidak bisa menjaga komitmen dan sikap sebagai pesepak bola profesional, terutama saat menginjak usia 20 tahun. Berbagai tindakan indispliner, seperti datang terlambat ke sesi latihan atau bahkan memilih mengakhiri sesi latihan lebih cepat, pernah dilakukan Boateng.

"Saya banyak melakukan kekacauan saat masih muda. Saat itu, saya tidak serius dan tidak memiliki orang-orang yang tepat di sekeliling saya. Berbeda dengan kondisi saat ini. Sebenarnya saya merasa, apabila saya lebih profesional pada masa-masa itu, mungkin saya bisa mencapai prestasi yang lebih baik," kata Boateng, beberapa waktu lalu.

Namun, Boateng adalah pemain yang mampu menjaga karakternya di atas lapangan. Dikenal memiliki kemampuan teknik di atas rata-rata, daya jelajah yang tinggi, dan instig mencetak gol, Boateng merupakan sosok ideal untuk bisa menjadi motor di lini tengah. Salah satu kemampuan ini, terutama dalam merobek gawang lawan, itu pun terus diasah Boateng dalam beberapa tahun terkahir.

Imbasnya, posisi bermain Boateng mengalami perubahan yang cukup sigfinikan dalam beberapa tahun terakhir. Kala masih membela Milan, Boateng merupakan box to box midfielder yang diandalkan untuk memotong alur serangan lawan dan membantu penyerangan. Kini, Boateng bisa diandalkan dan ditempatkan lebih ke depan atau sebagai penyerang maupun second striker. Selain pengalaman dan fleksibilitas posisi bermain, kemampuan itulah yang akhirnya menarik minat Barcelona merekrut Boateng.

Boateng memulai kipranya sebagai penyerang kala Las Palmas pada musim 2016/2017. Pada saat itu, Boateng berhasil mencetak 10 gol dari 29 laga. Kemampuan ini pun dipertajam Boateng di Sassuolo pada musim 2018/2019. Bahkan, pada awal musim Liga Italia musim 2018/2019, Boateng sudah mencetak lima gol dari enam laga. Hal itu membuat Boateng menjadi salah satu pemain terbaik di kancah Serie A pada saat itu.

Catatan apik ini tidak terlepas dari kebebasan yang diberikan Roberto De Zerbi, pelatih Sassuolo pada saat itu, kepada Boateng untuk tampil di lini serang. ''De Zerbi memberikan apa yang saya butuhkan di atas lapangan, yaitu kebebasan dengan berbagai opsi. Dia mengajarkan saya bagaimana menemukan posisi yang tepat di lini serang,'' kata Boateng kepada Sportweek soal perubahan posisi bermain, beberapa waktu lalu.

Di sisi lain, De Zerbi pun menyebut, Boateng adalah pesepakbola yang lengkap, bukan hanya soal kualitas teknik, tapi juga karakteristik dan mentalitas bertanding. ''Dia adalah pesepak bola yang komplet. Dia bisa bermain di posisi mana saja. Saat dia tampil di lini serang, dia bisa mengangkat moral tim,'' kata De Zerbi seperti dilansir Gazzetta dello Sports.

Pujian serupa juga diungkapkan Ernesto Valverde, pelatih Barcelona yang membawanya ke Blagurana. Menurutnya, Boateng adalah jawaban atas cedera yang dialami Suarez.

Apalagi, Boateng cenderung cepat dalam beradaptasi dengan permainan tim. Akhirnya, deretan kemampuan inilah yang sepertinya bakal membuat karier Boateng terus berlanjut asalkan tidak terlalu banyak terganggu dengan masalah cedera.

Kemampuan ini pula yang sepertinya dibutuhkan Besiktas untuk bisa memperbaiki posisi di papan klasemen sementara Liga Super Turki. Hingga pekan ke-20 Liga Super Turki, peringkat ketiga Liga SUper Turki musim lalu itu memang masih tertatih-tatih di peringkat ketujuh dan terpaut empat angka dari zona kompetisi Eropa atau peringkat keempat.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA