Rabu, 17 Ramadhan 1440 / 22 Mei 2019

Rabu, 17 Ramadhan 1440 / 22 Mei 2019

Mewujudkan Bobotoh-Jakmania Satu Tribun

Ahad 16 Des 2018 07:48 WIB

Rep: Hartifiany Praisra/ Red: Gilang Akbar Prambadi

The Jakmania dan Viking di Kabupaten Indramayu menggelar deklarasi damai di Mapolres Indramayu, Rabu (26/9). Disaksikan Kapolres Indramayu, AKBP Arif Fajarudin (tengah), kedua kelompok itu sepakat bersama-sama menjaga perdamaian dan tidak menyimpan dendam.

The Jakmania dan Viking di Kabupaten Indramayu menggelar deklarasi damai di Mapolres Indramayu, Rabu (26/9). Disaksikan Kapolres Indramayu, AKBP Arif Fajarudin (tengah), kedua kelompok itu sepakat bersama-sama menjaga perdamaian dan tidak menyimpan dendam.

Foto: Republika/Lilis Sri Handayani
Persoalan utama adalah merekatkan para pendukung di tataran akar rumput.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Manajemen Persib Bandung terus melakukan evaluasi terkait hasil perjalanan Maung Bandung sepanjang tahun 2018. Tak cuma skuat dan jajaran pelatih, manajemen juga melakukan evaluasi terkait Bobotoh, sebutan untuk supoter Persib.

Manajemen dari juara Liga Indonesia 2014 ini menyadari perilaku Bobotoh sangat berpengaruh terhadap perjalanan Persib mengarungi kompetisi. Kesadaran manajemen berangkat dari kejadian pada bulan September 2018 lalu ketika sejumlah oknum Bobotoh menghilangkan nyawa seorang pendukung Persija Jakarta, Jakmania.

Kala itu, tewasnya pendukung Persija bernama Haringga Sirla ternyata berdampak luar biasa terhadap usaha Persib menjuarai Liga 1 2018. Komisi Disiplin (Komdis) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) lalu menjatuhkan hukuman berat untuk Maung Bandung.

Salah satunya adalah mengharamkan Persib tampil dengan dukungan langsung dari Bobotoh. Di manapun Persib bermain, Bobotoh tak boleh hadir. Imbasnya pun langsung terasa, sejak menjalani hukuman, Supardi dan kawan-kawan bermain buruk hingga harus melupakan gelar juara Liga 1 2018 sebelum seluruh pertandingan musim ini pungkas dihelat.

Kehilangan dukungan dari Bobotoh bukan hanya mengakibatkan menurunnya performa Persib, dampak finansial juga harus diterima. Manajemen mengalami kerugian karena pemasukan dari tiket otomatis hilang, terlebih Komdis PSSI juga melarang Persib melakoni laga kandang di seluruh stadion yang berada di Pulau Jawa.

"Jadi sekarang sudah saatnya, wacana mendamaikan Bobotoh dengaan Jakmania digarap dengan sangat-sangat serius. Pertikaian bobotoh dengan Jakmania terbukti sangat memberikan kerugian," ujar Direktur PT Persib Bandung Bermartabat Teddy Tjahyono di Bandung, kemarin.

Menurut Teddy, jajaran manajemen punya tenaga dan kuasa untuk bisa membuat forum pertemuan agar Bobotoh dan Jakmania berdamai. Teddy menyatakan, manajemen Persib selalu menjalin komunikasi dengan pentolan Bobotoh dari berbagai kelompok. Ia mengungkapkan, hubungan antara Bobotoh dan Kakmania di jajaran pemimpin organisasi pun sebenarnya berjalan baik.

Menurut Teddy, yang kini menjadi persoalan utama adalah merekatkan para pendukung di tataran akar rumput antara kedua kesebelasan. Untuk itu, Teddy menyebut perlu gagasan ekstrem untuk menyatukan dua kubu yang sudah lebih dari satu dekade bermusuhan ini.

"Misalnya kita taruh Bobotoh dan Jakmania dalam satu tribun ketika pertandingan Persib melawan Persija. Tapi tentu tak bisa asal-asalan, harus dikawal ketat," kata dia.

Mengenai ide ini, Teddy yakin penerapannya bisa membuat relasi bobotoh dan Jakmania teduh. "Nanti Jakmania dikawal oleh Bobotoh kalau Persija bertamu, begitu sebaliknya, jadi nanti terjalin hubungan baik," kata dia.

photo

Ridwan Kamil (ketika masih menjadi Wali Kota Bandung), didampingi Manajer Persib Umuh Muchtar berkunjung ke markas Persija dan Jakmania di kawasan Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta,beberapa waktu lalu. (Republika/Yasin Habibi)

Teddy menambahkan, Persib juga akan menyediakan lima hingga 10 bus untuk Jakmania ketika Persija datang bertamu. Selain itu, seluruh Bobotoh dari berbagai kelompok mulai Viking hingga Bomber akan diajak untuk mengawal perjalanan rombongan Jakmania selama berada di Bandung. 

"Sosialisasi dan komunikasi terkait ini sudah disampaikan kepada pentolan Bobotoh, ini dilakukan karena kita lihat sama-sama lah ya lama-lama makin tidak karuan konfliknya," jelas Teddy.

Teddy mengakui, memang tidak ada yang mengetahui awal mula rivalitas kedua suporter terbesar di Indonesia ini. Namun dengan usaha dan kerja sama, bukan tidak mungkin kedua belah pihak akan benar-benar berada di dalam satu tribun yang sama.

"Okelah ini rivalitas kedua tim, tapi jangan sampai kebablasan kayak begitu. Saya sih kalau mau mencairkan mesti dari semua, kalau semakin dilarang makin memuncak dan tidak akan beres," jelasnya.

Teddy optimistis ketegangan kedua kubu suporter akan mencair di masa mendatang. Apalagi berbagai macam insiden merugikan telah terjadi selama Liga 1 2018 berjalan.

Teddy yakin seluruh kejadian merugikan yang selama ini muncul dapat dijadikan landasan perdamaian kedua belah pihak. "Tapi tidak bisa hanya bicara di atas tanpa implementasi ke bawah. Kalau misal benar-benar dikawal 200-300 orang, dijagain oleh Bobotoh kita saja, lama-lama makin besar jadi satu tribun khusus," kata Teddy.

Gagasan hampir serupa sebenarnya pernah terlontar dari mulut Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi. Imam menilai, sudah saatnya perdamaian kedua kubu dilakukan langsung di tempat sepak bola dimainkan, stadion.

"Persija bertanding lawan Persib di Jakarta, tidak apa-apa. The Jak maupun Bobotoh sudah betul-betul ada kesadaran bersama untuk menjaga perdamaian dan persaudaraan. Ayo kita kawal bersama-sama," kata Imam beberapa waktu lalu.

Imam meminta Jakarta yang merupakan Ibu Kota negara menjadi tempat yang ramah bagi Bobotoh ketika Persib bermain. Demikian pula Bandung yang dikenal sebagai Ibu Kota Jawa Barat, bisa menjadi tempat aman bagi Jakmania.

Menurut Imam, Jakmania dan Bobotoh sebenarnya sama-sama mencintai hal sama, sepak bola. Untuk itu, Imam meminta agar Jakmania dan Bobotoh mau menjaga tali persahabatan atas nama sepak bola.

"Apapun itu, pada akhirnya kita semua adalah saudara. Mari saling menjaga dmi sepak bola Indonesia yang maju dan lebih baik," kata Imam.

 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA