Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

The Daddies adalah Teladan

Selasa 12 Mar 2019 08:34 WIB

Red: Gilang Akbar Prambadi

 Ganda putera Indonesia, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, melakukan selebrasi usai memenangkan pertandingan.

Ganda putera Indonesia, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, melakukan selebrasi usai memenangkan pertandingan.

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
PBSI ikut bangga atas gelar yang diraih Hendra/Ahsan.

REPUBLIKA.CO.ID, BIRMINGHAM — Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) sangat bangga atas keberhasilan ganda putra Hendra Setiawan/Mohamad Ahsan yang mampu meraih gelar juara All England 2019. Meski Hendra/Ahsan bukan lagi bagian dari pelatnas Cipayung, PBSI menilai keduanya merupakan teladan yang wajib dicontoh pemain muda.

“Seperti yang saya bilang sebelumnya, tidak ada yang mustahil. Sebelum pertandingan berakhir, semua memungkinkan saja. Kita lihat perjuangan dari Hendra/Ahsan luar biasa. Kami semua terharu. Saya sampai menangis karena (dengan Hendra cedera), peluangnya kecil. Ini jadi panutan buat adik-adik. Kesempatan sekecil apa pun, kalau kita berusaha, pasti ada jalan," kata Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI Susy Susanti dalam keterangan pers, kemarin.

Susy mengatakan, gelar yang diraih oleh pasangan senior bulu tangkis Indonesia itu merupakan buah dari perjuangan luar biasa. Walaupun keduanya kini berkarier sebagai pemain profesional, gelar yang diraih tetap turut mengharumkan nama bangsa.

“Pastinya senang dengan hasil Hendra/Ahsan. Intinya bisa terus konsisten berprestasi, apalagi di turnamen bergengsi. Ini memberikan semangat baru dan keyakinan, paling tidak menuju Olimpiade. Apalagi, yang dapat gelar sekarang Hendra/Ahsan. Biasanya kita selalu bergantung pada Kevin (Sanjaya Sukamuljo)/Marcus (Fernaldi Gideon). Yang selalu stabil kan mereka,” ujar dia.

 

photo
Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan menunjukkan medali juara All England 2019.



Susy menambahkan, kini Indonesia punya sektor ganda putra yang kian kuat. Bangkitnya Hendra/Ahsan membuat Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dan Kevin/Marcus bisa makin percaya diri.

“Itu yang membanggakan. Banyak hal yang membuat mereka patut dijadikan panutan. Saya katakan kepada adik-adik, mereka semua itu panutan, dari disiplinnya, attitude-nya, sikapnya, pada saat di lapangan, di latihan, benar-benar mencerminkan seorang juara,” kata Susy menambahkan.

Peraih medali emas tunggal putri Olimpiade 1992 tersbeut berharap pemain muda makin bergairah melihat keberhasilan Hendra/Ahsan. Menurut dia, saat ini bulu tangkis Indonesia punya masa depan yang kian menjanjikan.

“Secara keseluruhan untuk pemain muda, saya melihat ada progres. Kalau tahun lalu yang lolos ke semifinal ada satu, sekarang bisa tiga. Padahal, kans ke final bisa tiga wakil, tapi balik lagi ke pengalaman, ketenangan, yang bisa menentukan seorang atlet itu bisa tampil sampai akhir, apalagi di turnamen bergengsi seperti ini," ujar Susy.

Secara khusus, Susy menyoroti kiprah Fajar/Rian yang masih sulit mencapai konsistensi. Menurut Susy, Fajar/Rian harus mampu tampil lebih tenang. Legenda bulu tangkis asal Tasikmalaya, Jawa Barat, tersebut mengakui usia muda kadang membuat performa tak stabill.

Namun, Susy meminta Fajar/Rian untuk bisa lebih berani dalam bermain. "Secara pukulan, permainan, sebetulnya sudah mulai bagus, sudah mulai naik, tapi harus lengkapi di nonteknisnya. Dari servis, poin-poin kritis, ada beberapa hal yang harus dibenahi," kata Susy.

Walau ada kekurangan, Susy menegaskan, kekuatan terbaik sektor ganda putra dunia ada di kubu Indonesia. Dia ingin pembinaan yang dilakukan PBSI bisa berjalan berkesinambungan. Susy memiliki visi agar regenerasi terus berjalan. "Sehingga diharapkan kita terus bisa kuat. Peran Hendra/Ahsan cukup penting di sini," kata dia.

Pelatih ganda putra PP PBSI, Herry Iman Pierngadi, yang mendampingi Hendra/Ahsan dalam pertandingan final sangat kagum dengan perjuangan pasangan berjuluk the Daddies tersebut. Menurut Henry, kelebihan Hendra/Ahsan adalah mental juara yang sangat kuat.

“Artinya Hendra/Ahsan belum habis. Yang harus ditiru dari Hendra/Ahsan, mereka tidak pernah menyerah. Sebelum angka 21, masih memungkinkan memenangkan pertandingan. Lihat saja, di gim pertama kan jauh kalahnya, tapi mereka bisa bangkit, bisa menang, itu memang mental juara. Tapi, secara teknik mereka memang lebih di atas dibanding pemain-pemain di tim ganda putra," ujar dia.

Prestasi yang ditorehkan Hendra/Ahsan membantu Indonesia meraih target yang dicanangkan. Sebelum mengikuti turnamen Super 1000 tersebut, PBSI menargetkan satu gelar bisa dibawa pulang. Harapan tertinggi terdapuk di pasangan Kevin/Marcus.

Kevin/Marcus punya peluang besar meraih juara untuk membukukan hat-trick setelah menjuarai All England edis 2017 dan 2018. Namun, pasangan yang dijuluki the Minions itu kandas sejak babak pertama.

Hendra/Ahsan pun berhasil menjawab keresahan PBSI. Meski kurang diunggulkan, keduanya mampu unjuk gigi. Hasil tersebut merupakan gelar All England kedua yang diraih Hendra/Ahsan sejak terakhir merengkuhnya lima tahun silam.

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA