Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

'Karena Kita Anak Bola'

Ahad 13 Jan 2019 07:14 WIB

Red: Gilang Akbar Prambadi

penonton  Piala AFC U19  membawa anak kecil untuk menyaksikan pertandingan sepakbola di   Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Ahad (28/10).

penonton Piala AFC U19 membawa anak kecil untuk menyaksikan pertandingan sepakbola di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Ahad (28/10).

Foto: Republika/Iman Firmansyah
Kalimat 'we are football people' yang Pochettino ucapkan begitu mengena

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Gilang Akbar Prambadi

 

Sesi jumpa pers pelatih Tottenham Hotspur Mauricio Pochettino jelang laga akhir pekan Liga Primer Inggris pada Jumat (11/1) lalu berjalan berbeda. Fokus yang disampaikan olehnya sedikit keluar dari koridor konteks pralaga, tapi tetap sesuai karena berkaitan dengan identitas lawan yang akan dihadapi timya.

 

Tottenham akan menjamu Manchester United (MU) di Wembley, London, malam ini WIB. Sebuah laga yang mempertemukan suatu kekuatan baru di Liga Primer Inggris dengan sang raja yang tengah terluka.

 

Pada konferensi pers tersebut, Pochettino sempat lama membahas sosok Sir Alex Ferguson. Menurut Pochettino, Ferguson adalah tokoh yang sangat menginspirasinya di dunia sepak bola.

photo
Mauricio Pochettino.

Secara gamblang, Pochettino bahkan menyebut Sir Alex yang kini sudah tak melatih itu sebagai definisi murni dari kata 'sepak bola'. "Sir Alex berdiri di jajaran persona yang paling saya idolai, sebuah inspirasi. Dialah sepak bola," kata Pochettino di depan para awak media.

 

Pochettino menceritakan kesan mendalamnya terkait Sir Alex. Pelatih berkebangsaan Argentina ini mengaku jadi saksi langsung terukirnya sebuah sejarah hebat ketika Sir Alex membawa MU meraih trofi ketiga untuk mewujudkan treble winners pada musim 1998/1999. Kala itu, Pochettino hadir di Camp Nou, Spanyol tempat berlangsungnya pertandingan MU kontra Bayern Muenchen pada final Piala Champhions.

 

Pochettino mengaku dibuat kagum dengan gol terakhir sekaligus penanda kemenangan MU yang dicetak pelatih Iblis Merah saat ini, Ole Gunnar Solksjaer. Sejak saat itu, pria bernama lengkap Mauricio Roberto Pochettino Trossero tersebut langsung jatuh hati dengan filosofi melatih ala Sir Alex.

 

Kekaguman legenda Espanyol ini terus terpelihara hingga sekarang. Pochettino bahkan secara khusus pernah mengirimkan pesan singkat kepada Sir Alex ketika sosok berusia 77 tahun itu sedang dalam masa kesehatan yang kritis pertengahan 2018 lalu.

 

"Apakah saya mengirimkan harapan saat dia sakit? Ya benar. Saya melakukannya karena saya tak bisa menyembunyikan kekaguman dan hubungan baik saya dengannya," kata Pochettino.

 

Menarik melihat polah Pochettino yang sudah sangat langka ditemui dari pelatih-pelatih modern saat ini. Sebuah gestur santun ditunjukkan oleh sosok pelatih muda yang belum mempersembahkan gelar apapun untuk klub-klub yang ditukanginya.

 

Pada sesi jumpa pers yang sama, Pochettino mengajarkan kita tentang sebuah makna mendalam dari salah satu frasa yang ia lontarkan terkait Sir Alex. Pochettino mengungkapkan, pada suatu waktu di tahun 2016, ia pernah makan siang bersama kakek yang akrab disapa Fergie itu.

 

"Sejak makan siang bersama tersebut, saya dan Sir Alex tetap menjaga hubungan baik, begitulah, karena kami adalah orang-orang sepak bola (we are football people)," kata Pochettino.

 

Kalimat dalam bahasa Inggris 'we are football people' yang Pochettino ucapkan begitu mengena. Memang demikian cara sepak bola mengajarkan tentang sportivitas dan persahabatan. Sepak bola bahkan punya istilah friendly match atau pertandingan persahabatan. Dua kata kontradiktif tapi mampu menyatu menjadi sebuah frasa bermuatan positif.

 

Dalam bahasa saat ini, mungkin ucapan Pochettino bisa diwakili oleh kata-kata ini; 'Kita adalah anak bola'. Sebuah kalimat pemersatu yang penulis yakini harus ditanamkan dalam diri semua pecinta sepak bola di Tanah Air. Sulit untuk tidak menggelengkan kepala ketika mengetahui persaingan pendukung sepak bola di Indonesia terlalu memanas seperti setahun terakhir. Seorang suporter mati di tangan suporter lain bukanlah kabar baik.

 

'Kita adalah anak bola', untuk itu kita seharusnya bersatu. Nikmati sepak bola sebagai hiburan murah meriah. Sepak bola adalah penghibur rakyat. Biarlah harga tiket penerbangan domestik setinggi langit, yang penting tontonan bola di layar kaca tak dipungut biaya. 

 

Di depan mata, hiburan Piala Indonesia yang konon dibungkus dengan seadanya (bertitel Piala Indonesia 2018 tapi tak jua selesai walau tahun sudah berganti, plus, sponsor baru masuk saat turnamen sudah setengah jalan) akan segera dimulai kembali.

 

Lumayan, mungkin bisa dijadikan alternatif tontotan untuk dinikmati sembari menunggu Liga 1 2019 bergulir. Itu pun jika benar Liga 1 2019 akan digulirkan. Mengingat adanya beres-beres yang sedang dilakukan terkait mafia skor, maka tak mungkin jika Liga 1 tetap berjalan ketika penyidikan kasus tersebut sedang menunjukkan progres. Mengapa? Karena akan menjadi sangat membingungkan jika misalnya sebuah klub, pemain, manajer, atau pelatih di Liga 3, 2, maupun 1 terbukti ikut terlibat pengaturan skor sedangkan kompetisi musim 2019 sudah bergulir.

 

Layakkah suatu pihak yang di mata hukum terbukti melakukan pelanggaran tetap mengikuti sebuah turnamen olahraga yang dihelat di atas semangat sportivitas?. Oleh karena itu, sangat penting untuk membiarkan penyidikan kasus mafia skor tuntas sampai akar sehingga kick off Liga 1 2019 bisa dimulai dengan kondisi sepak bola yang jauh lebih bersih. Bersabarlah, memang tak mudah jadi anak bola di negeri ini.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA