Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Peneliti Temukan Kebiasaan Kiper Ketika Adu Penalti

Jumat 01 Aug 2014 17:25 WIB

Rep: C79/ Red: Didi Purwadi

Adu penalti (ilustrasi)

Adu penalti (ilustrasi)

Foto: EPA/Diego Azubel

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Sebuah penelitian mengungkapkan, penjaga gawang yang tengah menghadapi adu tendangan penalti akan melakukan gerakan yang bisa ditebak. Fenomena itu, sebagaimana disebutkan tim peneliti dari University College London (UCL) dalam jurnal Current Biology, dengan judul ‘Kesalahan Penjudi’.

Dari tayangan video pada pertandingan Piala Dunia dan Piala Eropa dalam rentang waktu 1976 hingga 2012, beberapa ahli psikologi menemukan bahwa setelah tiga tendangan secara beruntun ke arah yang sama, kiper akan cenderung meluncur ke arah sebaliknya pada tendangan keempat.

Salah satu contoh konkret seperti yang tertulis di jurnal ‘Kesalahan Penjudi’ adalah ketika permainan lempar koin. Jika sisi A pada satu koin muncul secara beruntun pada beberapa kali kesempatan, banyak orang mengira sisi B akan muncul begitu koin kembali dilempar.

Padahal, pada kenyataannya, setiap kali koin dilempar ada kemungkinan 50-50 sisi A maupun sisi B akan muncul, terlepas dari berapa kali sebuah sisi muncul secara beruntun. Dari contoh tersebut, ketika adu tendangan penalti, kesalahan itulah yang dilakukan sejumlah penjaga gawang.

“Setelah tiga kali tendangan, 69% kiper akan cenderung meluncur ke sisi yang berlawanan dari tendangan terakhir. Kemudian 31% meluncur ke arah yang sama dengan arah tiga tendangan beruntun,” ujar ketua peneliti, Erman Misirlisoy.

Contoh penelitian ini ialah ketika Inggris berhadapan dengan Portugal pada babak perempat final di Piala Eropa 2004 silam. Kala itu, kiper Inggris, David James, meluncur ke kanan setelah tiga penendang Portugal mengarahkan bola ke kiri.

James salah menebak karena penendang keempat kembali mengarahkan bola ke kiri. Portugal pun menang dengan skor 6-5. “Paling baik bagi seorang kiper ialah menebak secara acak,” kata Misirlisoy menambahkan.

“Kami sengaja tidak mengkaji bagian tengah karena kejadiannya begitu jarang. Tendangan penalti ke tengah terjadi kurang dari 10% dan hanya 2,5% kejadian di mana kiper tetap berada di tengah. Jadi, penendang bisa saja mengeksploitasi fakta ini dengan menendang ke tengah lebih sering,” tutup Misirlisoy.

sumber : BBC
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA