Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

Tuesday, 23 Safar 1441 / 22 October 2019

DPR Minta Kepolisian Usut Tuntas Kasus Pengeroyokan Bobotoh

Senin 10 Jul 2017 13:35 WIB

Rep: Frederikus Dominggus/ Red: Andri Saubani

Ribuan bobotoh melakukan aksi Buligir Day (bertelanjang dada) saat mendukung Persib melawan PSM Makassar di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Rabu (5/7).

Ribuan bobotoh melakukan aksi Buligir Day (bertelanjang dada) saat mendukung Persib melawan PSM Makassar di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Rabu (5/7).

Foto: Republika/Febrian Fachri

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Aksi kekerasan terhadap suporter sepak bola kembali terjadi. Pada Ahad (9/7) tiga pendukung Persib Bandung dikeroyok puluhan orang tak dikenal, di stasiun Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur.

Terkait hal tersebut, anggota Komisi X DPR RI, Dadang Rusdiana meminta pihak berwajib mengusut tuntas kasus tersebut sesuai dengan aturan berlaku. Meski terjadi di luar lapangan, ia berpendapat situasi ini tidak jauh-jauh dari lapangan hijau.

"Tentunya kita berharap kepolisian mengusut tuntas karena kan bisa kita lihat indikasinya. Tidak mungkin tiba-tiba orang yang tidak berurusan dengan sepak bola kemudian mencegat suporter Persib," ujar politisi Partai Hanura ini saat dihubungi Republika, pada Senin (10/7).

Tak hanya kepada pihak yang berwajib, Dadang meminta suporter Persib agar menahan diri dari segala tindakan berbau dendam. Ia berharap  Bobotoh tidak melakukan tindakan anarkis dan membiarkan kepolisian melakukan tugasnya sesuai aturan berlaku.

"Saya kira sebagai salah seorang suporter Persib, tentu kita perlu menahan diri dari perilaku destruktf. Sepakbola kita harus lebih dewasa, perbanyak prestasi dibanding kekerasan-kekerasan yang tidak perlu," tutur wakil rakyat dapil Jawa Barat II ini.

Dadang menilai sepak bola Indonesia sedang menuju kebangkitan dengan prestasi yang ditunjukkan kelompok yunior. Dengan demikian aksi kekerasan di dunia lapangan hijau dalam negeri harus dilawan.  "Kita sedang berada pada prestasi yang lebih baik, yang ditunjukkan anak-anak muda kita. Itu nggak boleh dicoreng oleh ulah oknum yang melakukan penganiyaaan. Saya kira polisi harus berindak tegas," tuturnya.

Terlepas dari persoalan ini, Ia melihat dalam skala yang lebih besar. Dadang menilai sudah saatnya PSSI melakukan penataan suporter setiap tim dengan baik. Ia tidak membantah jika Indonesia termasuk negara yang fanatisme sepak bolanya luar biasa. "Ini potensi sekaligus  tantangan. Jika ini dikelola dengan baik, maka industri sepak bola kita akan sangat menarik," ujar Dadang.

Ridwan Hisyam, anggota Komisi X lainnya turut mengomentari kejadian ini. Menurutnya lantaran terjadi di luar stadion, maka belum tentu kelompok penyerang berasal dari kubu penggemar sepak bola selain Persib. Potensi masyarakat yang terganggu dengan kehadiran penggemar bola juga bisa terjadi. "Bukan saja Persib, tapi semua," ujar wakil rakyat dapil Jatim V ini.

Ridwan meminta para koordinator pendukung lebih memberikan edukasi bagi anggotanya agar menciptakan suasana kondusif kala bepergian. Termasuk juga kepada kepolisian, menurut dia selain mengusut tuntas kasus ini, pihak keamanan harus lebih bersinergi antar sektor terdekat menjelang laga-laga sepert ini.

Ia mencontohkan jika ada pertandingan di Malang, maka kepolisian Surabaya harus antisipasi di tempat pemberhentian angkutan antar kota agar mencegah oknum-oknum yang ingin berbuat anarkistis. Pendukung Persib yang dikeroyok berjumlah tiga orang, yakni Imanuel (23), Erick (23), dan Afrian (20).

Ketiganya berniat menonton laga Liga 1 antara Madura United versus Persib Bandung . Partai yang digelar di Stadion Gelora Bangkalan Madura, pada Ahad (10/7) malam WIB itu, dimenangkan tuan rumah dengan skor 3-1.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA