Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Monday, 15 Safar 1441 / 14 October 2019

Timnas Indonesia Kehilangan Sosok Pemimpin

Ahad 11 Nov 2018 03:15 WIB

Rep: Ali Mansur/ Red: Israr Itah

Timnas Indonesia melakukan sesi foto sebelum melawan timnas Singapura dalam penyisihan grub B Piala AFF 2018 di Stadion Nasional Singapura, Jumat (9/11/2018).

Timnas Indonesia melakukan sesi foto sebelum melawan timnas Singapura dalam penyisihan grub B Piala AFF 2018 di Stadion Nasional Singapura, Jumat (9/11/2018).

Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Tim Merah- Putih harus takluk 0-1 dari Singapura pada laga perdana Grup B Piala AFF.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat sepak bola nasional Akmal Marhali menilai penyebab jebloknya penampilan tim nasional Indonesia melawan Singapura di Piala AFF 2019 karena kehilangan sosok pemimpin, yaitu Luis Milla. Akibatnya, Tim Merah- Putih harus takluk 0-1 dari Singapura pada laga perdana Grup B Piala AFF 2018 di Stadion Nasional Singapura, Jumat (9/11). 

Luis Milla memilih tidak menerima penawaran perpanjangan kontrak untuk menangani Evan Dimas dan kawan-kawan setelah kegagalan di Asean Games 2018 lalu. "Bima Sakti belum mampu mentransfer ilmu yang ditinggalkan Luis Milla. Ini sama saja ketika Bima Sakti menangani Timnas U-19 setelah ditinggal Indra Sjafri. Ketika itu lawan Jepang, kita kalah 1-4 permainannya juga jelek," ujar Akmal saat dihubungi melalui sambungan telepon, Sabtu (10/11).

Akmal menilai secara umum Bima Sakti belum memiliki jam terbang memadai sebagai pelatih. Apalagi langsung memegang tim yang besar dan sekelas timnas. Itu terlihat pada laga perdana Grup B Piala AFF 2018 tersebut. Hal ini berbeda ketika di bawah kendali Luis Milla yang mengubah gaya bermain dalam tempo 2-3 menit ketika tertinggal. 

"Kemarin sedikit ada kegugupan dan kemudian bingung. Para pemain akhirnya memilih bermain dengan bola-bola panjang. Kebiasaan di kompetisi lokal juga terbawa, tidak bisa membedakan antara bermain keras dengan kasar," keluhnya.

Di samping itu, kata Akmal, kompetisi Liga 1 yang masih berjalan juga turut menyumbang faktor penampilan buruk timnas di laga perdana Piala AFF ini. Dari seluruh tim peserta, hanya Indonesia yang kompetisinya masih berjalan. Akibatnya secara psikologis sangat merugikan. Para pemain tidak memiliki waktu cukup untuk berlatih bersama. Kemudian konsentrasi para pemain juga terbagi antara klub dengan timnas.

"Kondisi fisik mereka yang tidak dalam yang terbaik karena sudah terkuras semuanya di klub. Sehingga permainan mereka di timnas ala kadarnya seperti kemarin. Agak berubah 180 derajat dibanding era Luis Milla," tutur Akmal

Akibat dari kekalahan dari Singapura itu, Akmal menganggap peluang timnas Indonesia untuk lolos ke babak semifinal sangat sulit. Apalagi jika mereka tidak mengubah gaya bermain secara signifikan. Karena, Akmal mengatakan, sebenarnya di atas kertas kuncinya adalah saat melawan Singapura. Seandainya aja timnas Indonesia bisa mencuri poin di Singapura maka jalan menuju semifinal terbuka.

"Mungkin melawan Timor Leste Kita bisa menang sebagai tuan rumah tapi kita akan akan tandang ke markas Thailand partai hidup mati melawan Filipina tim ini juga tidak bisa dianggap remeh. Setidaknya kita harus menang di tiga laga untuk bisa lolos ke babak selanjutnya," tutup Akmal. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA