Wednesday, 21 Zulqaidah 1440 / 24 July 2019

Wednesday, 21 Zulqaidah 1440 / 24 July 2019

PSSI Diingatkan Lagi untuk tidak Mengadu ke FIFA

Jumat 08 Feb 2019 09:10 WIB

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Gilang Akbar Prambadi

Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) Gatot S Dewa Broto memberi salam seusai menjalani pemeriksaan Satgas Anti Mafia Bola di gedung Ombudsman, Jakarta, Kamis (7/2/2019).

Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) Gatot S Dewa Broto memberi salam seusai menjalani pemeriksaan Satgas Anti Mafia Bola di gedung Ombudsman, Jakarta, Kamis (7/2/2019).

Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Jika PSSI melapor ke FIFA, terjadi distorsi tentang peran dan fungsi satgas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) kembali mengingatkan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) agar tak melaporkan aksi Satuan Tugas (Satgas) Antimafia Bola ke Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA). Sekretaris Kemenpora (Sesmenpora) Gatot Dewa Broto mengatakan, aksi tim bentukan Mabes Polri tersebut bukan intervensi dari pemerintah terhadap badan induk sepak bola nasional.

Gatot menyatakan penyidikan di satgas merupakan aksi penegakan hukum. Meski bersinggungan dengan sepak bola, tim bentukan Kapolri Jenderal Tito Karnavian tersebut fokus dalam persoalan penegakan hukum positif.

“Saya ingatkan sekali lagi kepada PSSI jangan coba-coba lapor ke FIFA ini sebagai intervensi. Yang dilakukan satgas ini bentuk dari law enforcement (penegakan hukum) yang melibatkan match fixing dan match manipulation,” ujar dia di Jakarta, Kamis (7/2).

Peringatan Gatot kali ini menjadi yang kedua bagi PSSI. Peringatan serupa pernah Gatot sampaikan saat Satgas Antimafia Bola terbentuk pada Desember 2018.

Pasalnya, ada anggapan proses penyidikan banyak kasus oleh satgas sekarang ini merupakan wujud dari intervensi pemerintah atas persoalan yang terjadi di internal PSSI. Gatot khawatir jika PSSI melapor ke FIFA, terjadi distorsi tentang peran dan fungsi satgas. Ujungnya, FIFA akan membekukan sepak bola Indonesia.

Gatot pun berharap agar kekhawatiran tersebut tak berujung kenyataan. “Karena selama ini kita mendengar PSSI ingin kooperatif dengan satgas. Kita juga mendengar kalau Komite Adhoc Integrity itu akan MoU (bekerja sama) dengan satgas untuk mengusut tuntas match fixing,” kata Gatot menambahkan.

Ia pun percaya satgas tak terganggu dengan adanya komite baru buatan federasi tersebut. Buktinya, kata dia, satgas tetap bekerja menyidik beberapa kasus yang saat ini ditangani. “Hari ini (kemarin) saya diperiksa oleh satgas selama empat jam,” kata Gatot.

Gatot memang memenuhi panggilan satgas untuk dimintai keterangan sebagai saksi terkait dugaan pidana dalam laga PSS Sleman saat bertanding melawan Madura FC. Pemanggilan Gatot untuk pemberian keterangan tersebut merupakan kali kedua sejak Desember 2018. Ia ditanyai sekitar 40 pertanyaan. Kebanyakan pertanyaan terkait alur birokrasi antara Kemenpora dan PSSI.

Pendamping hukum di Kemenpora, Yusuf Suparman, menerangkan, Gatot diperiksa sebagai saksi. “Tetapi, bukan saksi fakta. Beliau (Gatot) diperiksa sebagai saksi yang memberikan keterangan tentang hubungan birokrasi dan administrasi antara Kemenpora, KONI, dan PSSI terkait penyelenggaraan kompetisi sepak bola di Indonesia,” kata dia.

Selain mendatangkan Gatot, kata Yusuf, dalam pemeriksaan tersebut, satgas juga memanggil dua saksi lainnya. Mereka adalah satu pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan satu pengurus dari PSSI.

Kesaksian dari Gatot kali ini menjadi pemberian keterangan yang kali kedua. Pada 26 Desember 2018, Gatot juga memenuhi panggilan untuk memberikan kesaksian bersama Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA