Selasa, 13 Zulqaidah 1440 / 16 Juli 2019

Selasa, 13 Zulqaidah 1440 / 16 Juli 2019

Pengamat: Langkah Bali United Patut Ditiru

Selasa 18 Jun 2019 17:00 WIB

Rep: Afrizal Rosikhul Ilmi/ Red: Endro Yuwanto

Pemain dan pelatih Bali United di sela listing saham PT Bali Bintang Sejahtera Tbk di BEI Jakarta, Senin (17/6).

Pemain dan pelatih Bali United di sela listing saham PT Bali Bintang Sejahtera Tbk di BEI Jakarta, Senin (17/6).

Foto: Republika/Yogi Ardhi
Bali United diguyur dana sebesar Rp 350 miliar dari sekma IPO.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bali Bintang Sejahtera Tbk, perusahaan yang memiliki dan mengelola klub sepak bola Liga 1 Indonesia, Bali United, menjadi perusahaan sepak bola pertama di Indonesia bahkan di Asia Tenggara yang go public dengan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pengamat sepak bola nasional, Akmal Marhali menilai langkah yang diambil Bali United sangatlah baik untuk kemajuan industri sepak bola Indonesia.

Koordinator Save Our Soccer ini menilai, terobosan-terobosan baru yang positif seperti ini perlu didukung dan ditiru oleh klub-klub lain. Pasalnya, kesehatan finansial merupakan pondasi utama dari sebuah industri.

"Dengan masuk bursa berarti klub punya kekuatan finansial yang cukup ke depannya. Ini langkah progresif yang perlu ditularkan ke klub lainnya," kata Akmal kepada Republika.co.id, Selasa (18/6).

PT Bali Bintang Sejahtera Tbk melepas sebanyak dua miliar lembar saham atau setara dengan 33,33 persen saham pada harga penawaran perdana. Melalui skema Initial Public Offering (IPO) atau pencatatan saham perdana, harga yang ditetapkan adalah senilai Rp 175 per saham. Bali United pun diguyur dana sebesar Rp 350 miliar dari hasil IPO tersebut.

Saham Bali United yang tercatat dengan kode saham 'BOLA' itu tidak hanya diminati oleh investor pasar modal, tetapi juga oleh fan dan suporter Bali United yang begitu antusias untuk "memiliki" dan menjadi pemegang saham klub berjuluk Serdadu Tridatu itu. Alhasil, terjadi kelebihan permintaan sampai dengan kurang lebih 110 kali dari porsi penjatahan terpusat saham yang ditawarkan kepada masyarakat.

"Tentu saja juga termasuk para suporter yang kali ini dapat berperan lebih aktif dalam memperbesar dampak Bali United untuk mencapai tujuannya,” ujar CEO Bali United, Yabes Tanuri.

Sejak melantai di pasar modal, saham Bali United langsung melejit 69,14 persen menjadi Rp 296 per saham. Perolehan dana dari IPO tersebut rencananya akan digunakan perseroan untuk investasi, memperkuat struktur permodalan di entitas anak perusahaan, dan sisanya akan digunakan untuk modal kerja.

“Dengan dilepasnya saham Bali United untuk umum, akan semakin banyak pihak yang bisa mendukung tercapainya visi dan misi Bali United untuk meraih sukses berkelanjutan dengan terus berinovasi baik di bidang sepak bola maupun industri olahraga dan hiburan secara luas," jelas Yabes.

Di lain pihak, Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho menilai hal ini sebagai langkah positif bagi industri sepak bola Indonesia. Menurutnya, dengan melantainya klub di pasar saham, maka hal itu dapat dikatakan sebagai tanda bahwa klub berjalan dengan profesional dan akuntabel.

"Tidak hanya dari segi manajerial, tetapi finansial karena itu adalah salah satu syarat untuk melantai di bursa," kata Andry kepada Republika.co.id, Selasa (18/6).

Terlebih, kata Andry, klub sepak bola yang memiliki basis massa atau pendukung yang solid dapat menarik perhatian para fan untuk ikut terlibat langsung dengan menjadi bagian dari pemilik saham. "Ini menjadi bentuk dukungan konkret bagi fan klub tersebut karena fan sekarang bisa langsung menjadi bagian dan ikut memiliki klub karena berkesempatan menjadi pemegang saham klub tersebut," jelasnya.

Selain itu, kata Andry, hal ini juga dapat menjadi cambuk bagi klub lainnya untuk melakukan hal serupa, dengan tujuan untuk dapat membuat sepak bola di Indonesia sebagai sebuah industri yang menguntungkan dari segi supply (profesionalitas klub) dan demand (kehadiran suporter yang antusias). "Jika demikian, industri ini akan mampu menyerap investasi dari luar dan dalam jangka panjang mampu menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan mancanegara."

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA