Saturday, 17 Zulqaidah 1440 / 20 July 2019

Saturday, 17 Zulqaidah 1440 / 20 July 2019

Klopp dan Guardiola Dukung Pemain Tinggalkan Lapangan

Sabtu 30 Mar 2019 05:37 WIB

Red: Israr Itah

Pelatih Liverpool, Juergen Klopp (kiri) dan pelatih Manchester City, Pep Guardiola.

Pelatih Liverpool, Juergen Klopp (kiri) dan pelatih Manchester City, Pep Guardiola.

Foto: EPA/Nigel Roddis
Klopp dan Guardiola tak keberatan jika itu bisa menghilangkan aksi rasialisme.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Juergen Klopp dan Pep Guardiola sama-sama rela menghentikan pertandingan jika pemain mereka terkena pelecehan rasialis, seperti yang dialami oleh beberapa pemain Inggris di Montenegro, pekan ini. Klopp dan Guardiola tak keberatan jika itu bisa menghilangkan aksi rasialisme.

UEFA telah membuka penyelidikan setelah pemain Inggris Danny Rose, Raheem Sterling dan Callum Hudson-Odoi mengatakan mereka korban dari aksi rasialisme dalam kemenangan 5-1 di Podgorica, Montenegro pada kualifikasi Piala Eropa 2020.

Baca Juga

Manajer Liverpool, Klopp, meyakini bahwa keluar lapangan hanya karena minoritas suporter rasialis cukup berlebihan dan justru membuat mereka terlihat punya kekuatan. Tetapi, Klopp mengatakan mendukungan keputusan itu jika memang harus dilakukan. Ia juga menegaskan, keputusan itu harus diambil ofisial pertandingan jika serangan terhadap pemain meningkat, bukan keputusan pelatih.

"Bukannya para pelatih yang harus melakukan itu, tapi petugas pertandingan. Sebab jika saya menarik para pemain dan mereka mengatakan itu tidak begitu serius, Anda kehilangan permainan. Tugas kami adalah memenangkan pertandingan sepak bola," kata Klopp memberikan masukan.

Guardiola juga mendukung para pemain Manchester City untuk keluar lapangan. Ia menambahkan sepak bola harus mencoba dan memberikan contoh untuk aksi melawan rasialisme.

"Kami bisa melakukan itu (keluar)," kata pelatih Spanyol itu. "Sepak bola adalah senjata yang kuat untuk mempertahankan prinsip-prinsip kemanusiaan. Orang-orang mengatakan Anda tidak dapat mencampuradukkan sepakbola dan politik tetapi itu tidak benar."

"Ini bukan masalah sepak bola, itu masalah masyarakat itu sendiri. Saya pikir di Eropa, bukan di sepakbola, ini semakin buruk."

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA